Sunday, April 9, 2017

24!

9 april yang ke-24. Barakallah fii umrik, Nikma!
So the annual routine goes; my birthday post. Since I never update this blog, lets start with the flashback.
2016 was a really amazing year. Koas mulai memasuki fase kerja rodi yang sebenarnya. Last year, my birthday was on surgery rotation, which is like heaven in Bantul. Stase yang disurgakan karena konsulennya yang ajaib, kegiatan keseharian koas yang pressurenya less than the other rotation, dan kegiatan jaga malamnya yang super selo. Iyalah, jarang banget ada pasien yang perlu monitoran ketat dengan kondisi kritis. Ga kayak stase *uhuk* interna, yang tiada minggu tanpa kabar pasien plus (meninggal.red).
Then my 23rd berjalan diawali bedah, dilanjutkan obsgyn dan sistem jaga luar-dalam yang mana seminggu nginep rumah sakit dan seminggu lainnya jaga poli tanpa jaga malam. I was so lucky to get a great supervisor which gave my team a quick exam. Beliau punya sistem ujian tulisan dan lisan dengan masing-masing alokasi waktu 14 menit. Ujian tulis menjelaskan siklus hormon wanita (ILMU WAJIB DI OBGYN) dan ujian lisan dengan kasus skenario beliau. The rule for oral exam is simple; you didn’t pass the exam if your patient die. How about me? Pasien gue mati di ujian pertama. I clearly remember that the patien was a G8P7A0 which means this is her 8th pregnancy and she already had so many kids. Her condition was massive bleeding after the labor. Diagnosis sangat jelas; pasien mengalami atonia uteri. Dengan kondisinya yang sudah ‘beranak banyak’, histerektomi atau pengangkatan rahim bisa dilakukan. NAMUN. Perjalanan menuju kamar operasi tidak semudah itu. Saya panik karena membayangkan penanganan awal terapi cairan yang harus digantikan sementara menunggu ketersediaan transfusi darah. I’M SO BAD AT NUMBERS. It’s a piece of cake untuk rumus dasar pengganti kehilangan cairan *bukan takabur tapi beneran deh rumusnya simpel* Rumusnya hanya 3:1. Perbandingan antara kehilangan darah yang harus digantikan dengan kristaloid dibandingkan dengan koloid/darah. Tapi ya begitulah. Namanya juga panik *beneran bukan ngeles* *ya tapi emang pasti bingung sih namanya ujian* *nah ini malah ngeles beneran* *lol* But thanks to my obsgyn supervisor, karena sistem ujiannya yang gak bertele-tele, I can get a quick holiday dan bisa mudik bareng keluarga. And for me, this is the most important time of the year. Bisa kumpul komplit semua berenam.
After the quick holiday, masuk ke stase kecil; radiologi, anestesi, THT. Those triplets are mostly fun. Radiologi yang keseharian hanya duduk ngantuk di belakang dokternya, kemudian maju tugas dan dapet banyak ilmu (plus cerita kehidupan si dokter konsulen yang tampan dan super kocak), lalu pulang. Truly heaven. Lalu anestesi yang sungguh I’M FALLING IN LOVE WITH THIS ROTATION. Though kalo disuruh jadi spesialis anestesi juga bakal mikir sih. Mungkin juga karen ini salah satu stase di mana kami ditemani residen sehingga beban tanggung jawab lebih ‘ga segitunya’ dibanding stase lain tanpa residen. And FYI, ujian CBT saya di stase ini jadi sejarah tertinggi selama saya koas. Karena saking niatnya, saya punya buku catatan yang membahas soal-soal yang pernah keluar. Belum pernah saya seniat itu. Luar biasa. Stase kecil selanjutnya adalah THT, stase kecil terakhir. Nothing much that I can tell here. Since... well, mungkin sudah jadi cerita umum tentang poli ini di belantara koas Bantul. Lets just skip that. Hahaa
Setelah dari THT, psikiatri menjadi stase yang mengesankan untuk saya. Dendam saya untuk jadi psikolog membuat saya quite interested di ilmu kejiwaan. NAMUN. Setelah saya menjalani 5 minggu di stase jiwa, MEN, it’s so hard to be a psychiatrist. Moreover a psychologist. Berat men. Sungguh. Mendengarkan keluh kesah manusia dengan masalahnya yang bermacam-macam dan terkadang terkesan ‘yaelah gitu doang’ is DAMN HARD. Karena ternyata tidak semua yang kita anggap ‘hanya’ juga menjadi ‘hanya’ di orang lain. I got so much from this rotation. Dan jadi lebih mencoba memanusiakan manusia. So then, stase sedang selanjutnya adalah saraf. 5 minggu di saraf serasa mini interna. Dengan tugas keseharian yang mirip interna minus jaga malamnya. Dan polinya yang bisa sampai 100an pasien dalam sehari... Rasanya pengen mudik aja buk :( Tapi maju tugas saraf sungguh surga. Dokternya enaaakk banget dan ga makan banyak waktu. Singkat, padat, agak ga jelas. Lel.
Setelah itu kami menjalani ‘stase luar’ di mana kami farewell sementara ke homebase ‘tercinta’ dan bertualang ke puskesmas. Stase ilmu kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran keluarga, dan interprofessional education mengharuskan kami untuk berburu kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Not so much stories just ordinary duty. Tapi ada kepuasan tersendiri sih bisa interaksi langsung sama pasien-pasien yang masuk di kompetensi dokter umum.
Stase luar yang ter-menantang adalah; FORENSIK. The real kehidupan koas akhirnya saya rasakan di stase ini. Kami bergabung dengan beberapa fakultas kedokteran universitas lain untuk belajar di ilmu kedokteran forens RS. Sardjito. Porsi stase forensik sangat pas; porsi belajar, tugas, dan kasus. Alhamdulillah saya mendapatkan kuantitas dan kualitas kasus otopsi yang tepat.
Kembali ke ke Panembahan Senopati setelah stase luar yang campur aduk, saya dihadapkan dengan 2 stase sedang terakhir; kulit kelamin dan mata. Kulit kelamin juga menjadi stase lain yang tepat porsi. Dokter konsulen yang bagaikan malaikat, nyaris semua pasien dengan kasus baru dijelaskan langsung pada kami. Di stase kulit ini juga alhamdulillah kewajiban verifikasi stase banyak yang sudah saya selesaikan. Deadliner bener deh. Dikasi waktu setaun lebih buat verifikasi stase yangudah kelar, h-2 bulan stase komprehensif baru mulai verif. Ga mepet ga greget. Lel
After the heavenly kulit kelamin, comes the wajib militer koas Bantul; stase mata. It’s already the 2nd week of ophthalmology. But I’m still keeping my positive thinking about this rotation. Laa haula walaa quwwata illa billah. Percaya sama Allah pokonya. Semoga yang terbaik di stase terakhir ini. Amiin :’
So then, that’s the quick (but long) flashback. Life is so much amazing if you enjoy every moment ya sebenernya.
The other stupid thing that I haven’t told is... I got trapped on this k-pop boyband fandom. Ga terjebak juga sih, lebih kayak menjebak diri. Lol. Have you heard BTS? Its stand for Bangtan Seonyeondan a.k.a. Bangtan Boys a.k.a. Bulletproof Boys. Sebenernya udah pernah tau sejak mereka debut, but I haven’t falling as hard as now. As stupid as now. The thing that captured me was their MV theory. Walaupun mostly adalah teori yang diinterpretasikan oleh para fans, but the detail, the plot, the hidden messages, the heart wrenching stories... I just can’t stand it. Dan begitulah, dengan kebodohan akut saya, dan ketepatan waktu rencana kedatangan mereka ke Indonesia, I BOUGHT THE TICKET CONCERT. Belom pernah se-ngebet ini buat nonton konser boyband korea. I’ve been a multi fandom fangirl of so much boyband but I never been this gevlek. Lel. So yeah, I hope the universe will help me to watch BTS live concert in Indonesia this year. AMIN!
Back to the main topic, HAPPY BIRTHDAY NIKMA! Oh wait, I accidentally mis-type the punctuation and I clicked this~ It sounds more kiyowo if I use that on the congratulation yah. Once again, HAPPY BIRTHDAY NIKMA~
Akhirnya blog yang sudah berjamur, bersarang laba-laba, bergabutan sekian lama hidup juga.


Just realized when I type the title of this post; I'M SO OLD. Jaman dulu rasanya umur 24 udah pengen nikah aja, Sekarang begitu udah 24 beneran, ternyata BANYAK BANGET hal yag perlu diselesaikan dan dipikirakan selain pernikahan. Kata temen yang udah nikah 'Emang kalo ga beneran nyempetin, rasanya akan ada terus hal-hal yang perlu kita lakukan selain nikah.' Then I replied it with 'Bener ya berarti pernikahan itu cuma perlu kenekatan dan kebodohan'. But the we just laugh at it. Bukan, beneran deh bukan maksud ngegimanain mereka yang udah keren bisa nikah muda, It's just my own stoopid opinion sih. HAHA.

No comments: