9 april yang ke-24. Barakallah fii umrik, Nikma!
So the annual routine goes; my birthday post. Since I never
update this blog, lets start with the flashback.
2016 was a really amazing year. Koas mulai memasuki fase
kerja rodi yang sebenarnya. Last year, my birthday was on surgery rotation,
which is like heaven in Bantul. Stase yang disurgakan karena konsulennya yang
ajaib, kegiatan keseharian koas yang pressurenya less than the other rotation,
dan kegiatan jaga malamnya yang super selo. Iyalah, jarang banget ada pasien
yang perlu monitoran ketat dengan kondisi kritis. Ga kayak stase *uhuk*
interna, yang tiada minggu tanpa kabar pasien plus (meninggal.red).
Then my 23rd berjalan diawali bedah, dilanjutkan obsgyn dan
sistem jaga luar-dalam yang mana seminggu nginep rumah sakit dan seminggu
lainnya jaga poli tanpa jaga malam. I was so lucky to get a great supervisor
which gave my team a quick exam. Beliau punya sistem ujian tulisan dan lisan
dengan masing-masing alokasi waktu 14 menit. Ujian tulis menjelaskan siklus
hormon wanita (ILMU WAJIB DI OBGYN) dan ujian lisan dengan kasus skenario
beliau. The rule for oral exam is simple; you didn’t pass the exam if your
patient die. How about me? Pasien gue mati di ujian pertama. I clearly remember
that the patien was a G8P7A0 which means this is her 8th pregnancy and she
already had so many kids. Her condition was massive bleeding after the labor. Diagnosis
sangat jelas; pasien mengalami atonia uteri. Dengan kondisinya yang sudah ‘beranak
banyak’, histerektomi atau pengangkatan rahim bisa dilakukan. NAMUN. Perjalanan
menuju kamar operasi tidak semudah itu. Saya panik karena membayangkan
penanganan awal terapi cairan yang harus digantikan sementara menunggu
ketersediaan transfusi darah. I’M SO BAD AT NUMBERS. It’s a piece of cake untuk
rumus dasar pengganti kehilangan cairan *bukan takabur tapi beneran deh
rumusnya simpel* Rumusnya hanya 3:1. Perbandingan antara kehilangan darah yang
harus digantikan dengan kristaloid dibandingkan dengan koloid/darah. Tapi ya
begitulah. Namanya juga panik *beneran bukan ngeles* *ya tapi emang pasti
bingung sih namanya ujian* *nah ini malah ngeles beneran* *lol* But thanks to
my obsgyn supervisor, karena sistem ujiannya yang gak bertele-tele, I can get a
quick holiday dan bisa mudik bareng keluarga. And for me, this is the most
important time of the year. Bisa kumpul komplit semua berenam.
After the quick holiday, masuk ke stase kecil; radiologi,
anestesi, THT. Those triplets are mostly fun. Radiologi yang keseharian hanya
duduk ngantuk di belakang dokternya, kemudian maju tugas dan dapet banyak ilmu
(plus cerita kehidupan si dokter konsulen yang tampan dan super kocak), lalu
pulang. Truly heaven. Lalu anestesi yang sungguh I’M FALLING IN LOVE WITH THIS
ROTATION. Though kalo disuruh jadi spesialis anestesi juga bakal mikir sih. Mungkin
juga karen ini salah satu stase di mana kami ditemani residen sehingga beban
tanggung jawab lebih ‘ga segitunya’ dibanding stase lain tanpa residen. And FYI,
ujian CBT saya di stase ini jadi sejarah tertinggi selama saya koas. Karena saking
niatnya, saya punya buku catatan yang membahas soal-soal yang pernah keluar. Belum
pernah saya seniat itu. Luar biasa. Stase kecil selanjutnya adalah THT, stase
kecil terakhir. Nothing much that I can tell here. Since... well, mungkin sudah
jadi cerita umum tentang poli ini di belantara koas Bantul. Lets just skip
that. Hahaa
Setelah dari THT, psikiatri menjadi stase yang mengesankan
untuk saya. Dendam saya untuk jadi psikolog membuat saya quite interested di
ilmu kejiwaan. NAMUN. Setelah saya menjalani 5 minggu di stase jiwa, MEN, it’s
so hard to be a psychiatrist. Moreover a psychologist. Berat men. Sungguh. Mendengarkan
keluh kesah manusia dengan masalahnya yang bermacam-macam dan terkadang
terkesan ‘yaelah gitu doang’ is DAMN HARD. Karena ternyata tidak semua yang
kita anggap ‘hanya’ juga menjadi ‘hanya’ di orang lain. I got so much from this
rotation. Dan jadi lebih mencoba memanusiakan manusia. So then, stase sedang
selanjutnya adalah saraf. 5 minggu di saraf serasa mini interna. Dengan tugas
keseharian yang mirip interna minus jaga malamnya. Dan polinya yang bisa sampai
100an pasien dalam sehari... Rasanya pengen mudik aja buk :( Tapi maju tugas
saraf sungguh surga. Dokternya enaaakk banget dan ga makan banyak waktu. Singkat,
padat, agak ga jelas. Lel.
Setelah itu kami menjalani ‘stase luar’ di mana kami
farewell sementara ke homebase ‘tercinta’ dan bertualang ke puskesmas. Stase ilmu
kesehatan masyarakat, ilmu kedokteran keluarga, dan interprofessional education
mengharuskan kami untuk berburu kasus di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Not
so much stories just ordinary duty. Tapi ada kepuasan tersendiri sih bisa
interaksi langsung sama pasien-pasien yang masuk di kompetensi dokter umum.
Stase luar yang ter-menantang adalah; FORENSIK. The real
kehidupan koas akhirnya saya rasakan di stase ini. Kami bergabung dengan
beberapa fakultas kedokteran universitas lain untuk belajar di ilmu kedokteran
forens RS. Sardjito. Porsi stase forensik sangat pas; porsi belajar, tugas, dan
kasus. Alhamdulillah saya mendapatkan kuantitas dan kualitas kasus otopsi yang
tepat.
Kembali ke ke Panembahan Senopati setelah stase luar yang
campur aduk, saya dihadapkan dengan 2 stase sedang terakhir; kulit kelamin dan
mata. Kulit kelamin juga menjadi stase lain yang tepat porsi. Dokter konsulen
yang bagaikan malaikat, nyaris semua pasien dengan kasus baru dijelaskan
langsung pada kami. Di stase kulit ini juga alhamdulillah kewajiban verifikasi
stase banyak yang sudah saya selesaikan. Deadliner bener deh. Dikasi waktu
setaun lebih buat verifikasi stase yangudah kelar, h-2 bulan stase komprehensif
baru mulai verif. Ga mepet ga greget. Lel
After the heavenly kulit kelamin, comes the wajib militer
koas Bantul; stase mata. It’s already the 2nd week of ophthalmology. But I’m
still keeping my positive thinking about this rotation. Laa haula walaa quwwata
illa billah. Percaya sama Allah pokonya. Semoga yang terbaik di stase terakhir
ini. Amiin :’
So then, that’s the quick (but long) flashback. Life is so
much amazing if you enjoy every moment ya sebenernya.
The other stupid thing that I haven’t told is... I got
trapped on this k-pop boyband fandom. Ga terjebak juga sih, lebih kayak
menjebak diri. Lol. Have you heard BTS? Its stand for Bangtan Seonyeondan
a.k.a. Bangtan Boys a.k.a. Bulletproof Boys. Sebenernya udah pernah tau sejak
mereka debut, but I haven’t falling as hard as now. As stupid as now. The thing
that captured me was their MV theory. Walaupun mostly adalah teori yang
diinterpretasikan oleh para fans, but the detail, the plot, the hidden
messages, the heart wrenching stories... I just can’t stand it. Dan begitulah,
dengan kebodohan akut saya, dan ketepatan waktu rencana kedatangan mereka ke Indonesia,
I BOUGHT THE TICKET CONCERT. Belom pernah se-ngebet ini buat nonton konser
boyband korea. I’ve been a multi fandom fangirl of so much boyband but I never
been this gevlek. Lel. So yeah, I hope the universe will help me to watch BTS
live concert in Indonesia this year. AMIN!
Back to the main topic, HAPPY BIRTHDAY NIKMA! Oh wait, I
accidentally mis-type the punctuation and I clicked this~ It sounds more kiyowo
if I use that on the congratulation yah. Once again, HAPPY BIRTHDAY NIKMA~
Akhirnya blog yang sudah berjamur, bersarang laba-laba,
bergabutan sekian lama hidup juga.
No comments:
Post a Comment