Jadi ceritanya saya ingin cerita kalau saya sedang dikelilingi banyak permasalahan. Entah itu masalah saya, masalah orang lain, atau masalah yang sebenarnya bukan masalah. Tapi inilah warnanya hidup. Kalau hidup hitam putih, masalah-masalah ini yang nyediain warna pelangi. Cih cangkeman.
Jadi, mungkin akan ada banyak kata jadi di postingan ini. Jadi, nah kan udah muncul lagi jadinya. Jadi, mau yang mana dulu ini?
Jadi, masalah saya sendiri sebenarnya bukan masalah besar. Atau mungkin malah bukan masalah sama sekali? Tergantung orang yang menghadapinya mungkin. Untuk saya, yang ini cukup bisa dianggap masalah. Masalah apa? Hati. Itu satu. Kenapa sih masih main hati juga saya ini. Udah tau kan gimana bodohnya bermain masalah dengan hati. Ah payah. Kedua. Masalah yang masih sangat awam saya alami. Organisasi. Sejak kapan woy saya sok-sokan maenan organisasi. Sejak kuliah ini yang jelas. Semacam ingin menebus dosa dari kesangatpasifan saya jaman SMA dulu. Mungkin saking merasa sangat berdosanya, saya kalap berorganisasi di kuliah ini. Gak segitu banyak juga sepertinya oraganisasi saya. Tapi yang jelas saya memilih satu organisasi ini yang bisa dibilang cukup berat. Kata orang-orang. Dan di open recruitment-nya yang memang baru saja dilaksanakan, ada satu jadwal dari sekian rangkaian kegiatan yang innalillahi bentrok dengan satu jadwal organisasi lain yang saya juga terlibat di dalamnya. Yak. Selamat menikmati indahnya kemumetan, Nik.
Lalu. Kemudian. Selanjutnya. Saya baru saja merasakan bagaimana wauw-nya menjadi seorang mak comblang. Bahasa gaulnya, matchmaker. Ternyata gak gampang ye bok. Dan ini apakah saya menimbun dosa atau menumpuk pahala karena menyenangkan teman ya?
Eh iya. Mungkin akan lebih baik kalo semua masalah ini diganti istilah dan diganti cara pandang ya. Jadi ini semua sama sekali bukan masalah, Nik. Ini tantangan. Tantangan untuk nguji seberapa bisa, seberapa bijak, dan seberapa keren kamu untuk bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Yak. Kembali cangkeman lagi saya. Kangen nyangkem.
Sudah puas nyangkemnya? Belum. Tapi berhubung yang ingin dicangkemkan terlalu banyak, yasudahlah, sudah saja.
No comments:
Post a Comment