Monday, May 16, 2011

Pengumuman UN. Muntab.

Akhirnya, datang juga hari yang ditunggu oleh seluruh siswa tahun terakhir di bangku SMA. 16 Mei 2011. Pengumuman kelulusan. Sebelum hari-h, sudah banyak kabar berkeliaran di grup facebook teladan11. Baik yang kabar baik, maupun kabar buruk. Sempat terjadi kepanikan, jelas. Dan tibalah tadi pagi. Sadly, my parents can't come to take the exam result. Begitulah. Saya berangkat ke sekolah bersama Mida dan Lingga. Langsung menuju ke aula.

Di depan aula deretan meja yang ditempati wali kelas sudah tertata rapi, lengkap dengan box snack hijau. Dan masalah pun dimulai.

'Bu, ortu saya gak bisa dateng. Kalo ngambil sendiri gak papa?' Apa yang saya dapati ternyata tidak semenyenangkan bayangan saya. Ekspresi masam terlihat jelas di muka Bu Ndari, wali kelas saya.

'Kok gak bisa dateng itu kenapa? Ini wali yang lain bisa pada dateng,' kata beliau sambil menunjukkan daftar absen wali siswa yang memang nyaris penuh.

'Ortu di Bontang, Bu. Pas gak libur. Ortu saya bukan PNS soalnya,' saya sudah kereng.

'Terus wali ke mana?'

'Gak ada, Bu. Adanya di Solo,'

'Itu walinya Dito rajin banget lo dulu. Padahal dia juga orang Bontang kan,' than she talked about my senior yang memang juga rantau Bontang. It should be Tito. Bu, bahkan anda tidak bisa mengingat nama siswa yang sempat anda walikan dulu. Tidak perlu lah seharusnya anda memperbesar masalah perwalian saya yang saya yakin mungkin akan anda lupakan sebentar lagi.

Dan di situlah. Seorang wali kelas lain yang kebetulan duduk di sebelah Bu Ndari, mulai ikut campur. Sebut saja Pak Jamur. Untuk anak Teladan mungkin sudah terlalu tau ya.

'Gak mungkin kalo gak ada wali di Jogja. Ngurus pas masuk ke SMA 1 kan pake KK Jogja. Gak mungkin itu,' kata Pak Jamur. Tak ketinggalan tampang sok taunya yang terlalu amat sangat sengak.

'Iya ada, Pak. Tapi jarang ketemunya. Terus saya ngambilnya terakhiran, Bu?' tanya saya ke Bu Ndari yang dengan santainya tidak mengacuhkan saya dan sibuk menyambut wali siswa yang lain. Saya terlalu ingat dengan ekspresi wali kelas saya yang terlalu minta dibalang―astaghfirullah. Beliau benar-benar seperti menganggap saya tidak ada di depan beliau. Sementara cocotan si Jamur berlanjut lagi.

'Kamu ini gimana sih. Kok ortu wali sampe gak dateng. Malah kayak anak karo,' atau mungkin koar? Saya sudah―sengaja―lupa.

'Anak karo apa Pak?' tanya saya sambil masih mencoba menenangkan diri. Senyum terpaksa jelas banget di muka saya.

'Anak terbuang,' dengan santai beliau berkata seperti itu.

DANG! Saat itu juga saya langsung membuka twitter saya dan menumpahkan emosi saya di situ.

'ASU MALAH DICANGKEMI. ASU LAH KALO INI. ASU!' kurang lebih seperti itu. Ya. Saya lepas kontrol. Bagaimana tidak. Anak mana yang terima disebut sebagai anak terbuang. Secara tidak langsung beliau mencoreng nama orang tua saya sebagai pembuang anak. Dan itu beliau katakan di depan wali siswa lain. Rasanya saya ingin merobek cangkem beliau yang terlalu cangkeman.

'Ya maaf Pak kalau saya memang anak rantau,' ngenes. Saya tau saya dalam situasi di mana saya tidak mungkin untuk membela diri. Saya masih harus menjaga nama baik saya sebagai seorang anak Teladan yang wajib menghormati gurunya. Sial sekali. Guru seperti ini sepertinya tidak terlalu perlu untuk dihormati. Maaf. No offense.

'Kamu nyari dulu walimu baru bisa ngambil,' kata Bu Ndari. Begitulah. Saya pergi dari depan aula dengan emosi campur aduk. Jujur saya ingin menangis saat itu juga. Tapi saya masih punya kemaluan―I mean, rasa malu―yang harus saya jaga.

Beruntung saya bertemu Adis yang orang tuanya dengan senang hati saya titipi undangan. Alhamdulillah. Ternyata ortu dikumpulkan di aula hanya untuk dibagikan undangan wisuda dan selembar kertas bertuliskan lulus tidaknya siswa. Sial. Sia-sia sekali pertarungan emosi saya tadi. Hasil nilai UN ditempel di depan TU. Persis try out. Saya sudah tidak ada rasa untuk melihat nilai saya. Sudah terlalu gondok. Dan benar feeling saya, nilai saya tidak terlalu memuaskan. Tapi harus disyukuri. Jangan kufur nikmat, Nik.

Siangnya saya mengikuti tes kesehatan UMY yang diadakan di AMC. Oke. Skip this part. It isn't the highlight of this post. I'll tell it later. Lengkap dengan cerita tes wawancara dan psikologi UMY.

So, sekitar ashar sepulang saya dari tes kesehatan, saya meng-SMS Bu Ndari. Isinya, saya meminta maaf karena tadi pagi terlalu emosi dan titip maaf untuk Pak Jamur. Man. I know actually it wasn't my fault. Neither my parent's fault. Kalo saya boleh menjudge, jelas ini salah Jamur yang seenaknya ikut campur di masalah siswa kelas lain yang tidak diwalikan olehnya. Tapi saya juga cukup sakit hati dengan bagaimana wali kelas saya menanggapi hal ini. Beliau tidak bersikap sebagai seorang wali yang seharusnya mensupport siswa yang diwalikan olehnya. Justru beliau memberatkan saya yang jelas-jelas perantauan satu-satunya di kelas saya dan sudah sewajarnya dimaklumi tentang masalah perwalian seperti ini.

Dan apa balesan beliau? Sebentar. Saya akan menuliskan persis plek dengan apa yang beliau kirimkan ke saya.

'Ya memang p za**** orang nya begitu. Tp ibu kan dak apa2, td kan sdh diambilkan ibu nya ... Lupa. Maafkan ya p za****' I've underline-bold-italic the important part there. Gak apa-apa?! Ya jelas memang tidak apa-apa, setelah ibunya Adis bersedia mewakilkan wali saya. Tapi sebelum itu, jelas sangat apa-apa. How could I forget your senep face, Bu. Terlalu jelas tertanam di kepala saya. ck.

Lalu datang sms kedua.

'Kalau ortu mu repot ya ibu maklum, ibu saja wk anak 1 wisuda ugm juga dak bisa dtg, bpk juga. Wkt anak ke2 wisuda sma ibu lokakarya, bok di laut kan kerjanya pengeboran. Jangan marah ya nik n tersinhung. Too late, Bu. Kebacut. Terlanjur. Emosi saya sudah terlalu diaduk-aduk. And that 'tersinhung' word isn't my typo. It's hers. I said it right, I'll write exactly like what she wrote to me.

Saya jujur sangat ingin cepat melupakan hari ini. Ini bukan hari bahagia yang sempat saya bayangkan sebelumnya. Semoga saya cepat lupa hari ini.

Saya bahkan sempat berencana untuk menggemboskan motor kesayangan si Jamur. Tapi tidak jadi. Bagaimanapun saya masih sedikit punya etika. Mungkin nanti suatu saat setelah saya wisuda. Astaghfirullah.

Saya di sini tidak menyalahkan orang tua saya. Ortu saya sudah berbuat amat sangat subhanallah terlalu banyak untuk saya dan ketiga adik saya. Saya tidak ingin menuntut lebih. Yang dulu-dulu saja belum―dan mungkin tidak akan pernah―bisa saya balas. Terlalu nyolot lah kalau saya meminta yang lain lagi.

Malamnya ketika ibu saya menelpon saya dan menanyakan kelanjutan kabar kelulusan saya, saya hanya menjawab dengan jawaban-jawaban singkat. Saya tidak ingin kelepasan emosi dan meceritakan detil yang terjadi pada ibu saya. Saya tidak ingin membuat ibu saya tambah khawatir dan berpikir buruk lalu menyalahkan keputusan beliau yang merantaukan anak-anaknya untuk kebaikan. Saya beberapa kali sempat terpikir untuk menceritakan pada ortu saya. Tapi saya terlalu jahat jika sampai kejadian. Sudahlah, Nik. Nikmati saja untuk dirimu sendiri.

Jadi kesimpulan dari posting ini? Saya muntab. Sebut saja begitu. Sudah nyaris 1200-an kata di post saya ini. Terlalu menunjukkan kemuntaban saya kah? Biarlah. Semoga sedikit bisa melegakan saya. Karena pada akhirnya saya hanya punya diri saya sendiri untuk bertahan. No one else. Even my parents too far away from me. It doesn't mean that I'm pathetic. I'm just being real. This is the fact. Saya tidak ingin menjadi terlalu lemah dengan bergantung pada seseorang. I have me.

Done! Saya sudah sedikit lega. Tapi memang memaafkan itu tidak mudah ya.

No comments: