Tuesday, November 30, 2010

My Documents/SEKOLAH/Project/Stuck on my parents.doc


Stuck on my parents’ will. Okay. Maybe its me who being too inconsistent. Saya masih belum bisa klik di satu pilihan. Tapi ketika saya nyaris meng-klik-kan di satu pilihan, orang tua saya tidak menyetujuinya. Really. Feels like crying inside.
Dari awal saya sudah sedikit pesimis saya bisa mengikuti PBS. 40% di kelas bukan hal mudah mengingat teman-teman di kelas saya termasuk hitungan super. Saya? mungkin level saya medium. Medium sedikit ke bawah. Dont blame on me. Its not easy to be a super diamond among diamonds. Some people may think thats its better to be a diamond among rocks. Yeah. Me too. Tapi orang tua saya selalu menyemangati saya. berkata bahwa menjadi diamond between other diamonds is always better than among rocks. HA! Yeah thats truly right. But still, its hard to make it happen.
Kuliah adalah permasalahan hati. Permasalahan finansial. Permasalahan bakat. Yeah everybody knows it. Dan saya mempunyai masalah dengan nyaris kesemuanya.
Hati. Kalau menuruti keinginan, saya nyaris ingin memilih psikologi. Belum mencapai 100% juga. Tapi setidaknya saya sudah sedikit ingin. Padahal saya tau lapangan pekerjaan psikolog mungkin tidak sebesar teknik atau sebutlah, pendidikan dokter. Tapi bukankah Tuhan telah menggariskan takdir makhluknya? Jodoh dan mati di tangan Tuhan. Tentu tetap butuh usaha. Seandainya saya di psikologi dan berusaha, masakkan Tuhan masih tidak juga menjodohkan suatu kerjaan ke saya. Lagipula kerja utama seorang wanita adalah untuk menjadi istri dan ibu yang baik bukan? Thats it. Im thinking about my children if i become a doctor. Mungkin saya akan sangat jarang bertemu dengan anak-anak saya nantinya. Ya saya tau orang tua saya berkali-kali berkata bahwa dokter adalah pekerjaan yang fleksibel. Apalagi saya wanita. Saya bisa membuka praktik di rumah sehingga tidak perlu meninggalkan anak-anak saya. Actually, im totally disagree with their statement. For a doctor, i think patient is above everything. Including my children. See? Semisal saya nantinya membuka praktik di rumah saya. dan kemudian ada pasien darurat atau pasien saja lah. Tak perlu pakai darurat. Di sisi lain anak saya sedang menangis dan membutuhkan saya. manakah yang akan saya pilih? Rasionalnya, saya akan memilih pasien dan menyerahkan anak saya pada—sebut saja—baby sitter. Atau mungkin saya akan menyerahkan pasien saya kepada perawat terlebih dahulu? Ah entahlah. Intinya, menurut saya dokter bukanlah pekerjaan yang fleksibel seperti yang dikatakan orang tua saya.
Lalu masalah bakat. Saya merasa tidak memiliki bakat yang menonjol berhubungan dengan bidang kedokteran. Ditambah saya sedikit takut melihat luka, tepatnya darah. Tapi menurut orang tua saya—lagi dan lagi—kebanyakan dokter juga awalnya takut untuk menghadapi hal seperti itu. Istilahnya ala bisa karena biasa. Setelah terbiasa, mungkin saya tidak akan takut dengan darah lagi. Mungkin. Sementara di bidang psikologi, saya merasa bakat saya meluap-luap. Oke. Berlebihan. Intinya saya lebih merasa memiliki bakat ke-psikologi-an dibanding ke-dokter-an. Teman-teman saya yang berkata. Bukan hanya saya yang merasa. Benarkah? Atau mereka hanya ingin menghibur saya yang tampak tak punya arah ini? Atau hanya semacam strategi untuk menghilangkan satu lagi saingan ke ke-dokter-an? Apapun.
Dan kembali ke PBS. Kepesimisan saya sedikit terhapuskan setelah tempo hari orang tua saya menjelaskan bahwa sistem 40% itu tidak usah terlalu dipikirkan. Insya Allah dari pihak sekolah akan ada sedikit bantuan. Great. Sedikit menenangkan saya. Setelah satu jalur yang saya sedikit beri harapan ternyata sudah dihapus dari sitem penerimaan mahasiswa. Ya sudahlah.
Via telepon, saya mengatakan 2 pilihan saya di PBS adalah gizkes dan psikologi. DANG! Orang tua saya memberi reaksi keras. Beliau yang biasanya slow jadi sedikit gak nyante mengetahui keinginan anaknya yang dulunya sudah membuang psikologi, kembali tertarik. Sementara saya tidak memperhitungkan keinginan orang tua saya sama sekali. Ke-dokter-an. HA! Muncul lagi kau ke-dokter-an. Berterimakasihlah pada orang tua saya yang telah mengingatkan saya kembali kepadamu. Kalau tak ada mereka mungkin melirikpun saya tidak. Ck.
Sekarang saya kembali pada ke-plin-plan-an saya. Whether following my parents’ will, or my will. Tapi dari pengalaman yang sudah sudah, saya selalu mendapatkan sedikit sekali manfaat ketika saya mencoba memberontak dari keinginan orang tua saya. Mungkin saya sudah ditakdirkan untuk menjadi seorang anak yang sangat patuh. Atau pengecut? Tidak berani dengan lantang mengatakan apa yang saya inginkan. Terserahlah.
Ya sudahlah. Yang penting tetap usaha saya seperti apa. Kalau saya sendiri, terserahlah akan ke mana saya nantinya. Seperti kebiasaan saya, go with the stream. Ke mana arus akan membawa saya, ke situlah aya akan menuju. Inkonsistensi diri. Apalah sebutannya.

perang batin. 291110. playlist SHOW TIME!

1 comment:

deetbum said...

patient is above anything. you're right.