Wednesday, November 3, 2010

My Documents/SEKOLAH/Project/311010sunnite.doc


Randomly writing. Thats what I do now.


Tumpukan buku yang terbuka tidak juga membuat belajar saya makin lancar. Seolah-olah buku yang terbuka hanyalah hiasan semata. Pelengkap belajar yang entah masuk atau tidak ilmunya. Apakah otak saya terlalu hiperaktif untuk bisa fokus pada satu hal? Entahlah.

Tekanan belajar di tahun terakhir terlalu menyesakkan. Rasanya masa depan akan sangat suram ketika kau tidak bisa mengerjakan ujian masuk universitas. Begitukah?

Masa persiapan ujian masuk di tahun terakhir merupakan tekanan batin yang menurut saya terlalu menyedihkan untuk dijalani. Tak tahu seperti apa soal ujian yang akan dikeluarkan. Setiap hari disuapi dengan banyak macam soal, konsep, dan teknik yang konon akan diperlukan di ujian. Rasanya seperti digantung di antara neraka dan surga. Masa persiapan dan penantian yang tidak jelas. Rasanya ingin men-skip episode ini dan langsung ke bagian penerimaan mahasiswa baru. Tapi jelas tidak mungkin.
Saya tidak pernah belajar dengan baik sepulang sekolah selama kelas sepuluh dan sebelas. Menyesalkah saya? Mungkin. Banyak bahan yang masih belum bisa saya kuasai di kelas duabelas yang seharusnya sudah bisa saya pahami dengan lancar dari awal. Siapa yang menanam, dia yang menuai. Saya yang menanam this damn laziness, jadi saya juga yang harus menuainya. Saya mengerti itu.

Saya terlalu menganggap santai semuanya. Let it flow. Go with the stream. Selama ini saya terbiasa dengan pola seperti itu. Banyak perubahan rencana mendadak yang untungnya berbuah kebaikan. Seperti ketika saya akan masuk SMP. Awalnya saya—lebih tepatnya orang tua saya—memilih untuk menyekolahkan saya di luar hometown saya, tepatnya di Solo. Saya hanya asal patuh saja. Namun di akhir kelas enam, saya justru mengikuti ujian masuk ke sebuah SMP swasta di Yogyakarta alih-alih mengikuti rencana awal di Solo. Dan saya diterima dengan mudah di SMP Yogyakarta tersebut. Lalu ketika akan memilih SMA, dari awal saya sudah membulatkan tekad untuk masuk ke salah satu sekolah berasrama di Serpong. Sayangnya ketika saya mengikuti ujian masuk, tubuh saya sedang tidak fit. Apa daya ketika hari-h pengumuman penerimaan siswa di sekolah tersebut, nama saya tidak ada di daftar. Yasudahlah. Saya pun mendaftar di SMA negeri di Yogyakarta. Ternyata sekolah ini justru memberi saya banyak pengalaman yang mungkin tidak akan saya dapatkan di sekolah incaran awal saya.
Begitulah. Over all, pemilihan sekolah saya sebenarnya lebih dipengaruhi oleh keinginan orangtua. Walaupun akhirnya tidak tepat seperti rencana awal, namun rencana cadangan yang ada juga memberikan banyak keuntungan. Dan di tahun terakhir SMA ini, saya berpikir apakah memang seperti ini plot hidup saya. Di saat terakhir akan berbelok ke rencana cadangan yang Insya Allah juga memberikan kebaikan.

Sampai sekarang saya masih berpikir untuk santai saja dalam persiapan ujian masuk universitas ini. Saya memang bukan tipe yang bisa ngotot melakukan sesuatu dengan sangat serius. Saya terbiasa melakukan sesuatu dengan cara saya sendiri. Santai dan tenang. Sulit untuk saya bisa mengikuti keinginan banyak guru dan jelas orang tua saya untuk belajar dengan rajin. Saya tau dampaknya akan menjadi tidak baik untuk saya. Unfortunately saya belum bisa juga bertobat menjadi seperti keinginan mereka.


Kadang saya merasa bersalah kepada orang tua saya yang sudah berjuang membiayai dan mensupport saya. Sayangnya rasa bersalah saya belum bisa dilanjutkan dengan tindak nyata.
Di pembagian hasil mid semester 5 ini, saya mendapat nilai matematika dan fisika yang lumayan tragis. Saya akui memang di dua mata pelajaran ini saya mengalami kesulitan. Sementara teman-teman saya yang lain berkata pasti akan dimarahi setelah orang tuanya melihat hasil mid, saya tidak. Saya tau orang tua saya tidak akan marah. Sebagaimanapun nilai saya, orang tua saya akan selalu memuji saya dan menyemangati saya untuk lebih baik lagi. Ini yang membuat saya justru merasa bersalah. Rasanya kesalahan saya tidak terhapuskan karena belum dimarahi. Ketika saya memberitahu bahwa nilai saya sangat kurang di matematika dan fisika, bapak saya membalas SMS saya dengan kata-kata penyemangat dan meminta maaf karena tak bisa mendampingi saya belajar. Maaf. Kata-kata inilah yang membuat saya semakin terberatkan. Saya lebih memilih untuk dimarahi daripada dihadapkan pada kata maaf. Berat.

*another random thoughts. same cause. same playlist. bored

No comments: