Wednesday, November 3, 2010

My Documents/SEKOLAH/Project/3010satniteagain.doc


Sender : Dita Putri Damayanti
Aku gak boleh ke sekolah ToT

30 October 2010, Saturday, 04.35

Masih terlalu pagi untuk menerima SMS. Setengah sadar saya membalasnya.
Nikma : Hah? Emang kenapa?
Dita : Loh emang di sana gak hujan abu ya?
Lalu dari luar kamar mulai ramai obrolan anak kos saya. Hal yang tidak biasa ketika hari masih terlalu dini dan kosan sudah mulai berkegiatan.
Saya buka pintu kamar saya dengan mata masih ‘kriyip-kriyip’. Atap rumah utama kosan saya sudah tertutup oleh abu. Hujan abu? Ah iya. Merapi masih labil. Tapi, hujan abu? Sementara kosan saya berada di daerah lumayan selatan. Seberapa parah erupsi kali ini? Saya memutuskan untuk mengeceknya lewat jejaring sosial ter-update—dan bisa dibilang terlebay—twitter. Dan ternyata teman-teman saya yang bertempat tinggal di daerah yang jauh lebih selatan dari saya juga terkena hujan abu. Banyak yang orangtuanya tidak memperbolehkan mereka untuk berangkat sekolah. Beberapa teman kos saya juga sudah memutuskan untuk tidak sekolah. Saya? Harus sekolah. Kenapa? Karena saya adalah tipe paranoid yang justru merasa lebih aman jika saya dikelilingi banyak orang.
Di sekolah, banyak siswa yang mengendarai motor bajunya sudah berubah bentuk. Sebagian sudah tertutupi oleh debu dari hujan abu. Kursi di balkon kelas saya tak luput dari debu abu. Bahkan meja di dalam kelas juga sedikit terkena abu. Suasana PMKT tidak kondusif. Tak ada penampakan guru pengawas. Teman-teman ramai membicarakan hujan abu. Teman saya yang berada di daerah utara justru tidak terkena hujan abu. Hujan abu ternyata lebih parah terjadi di daerah selatan.
KBM di jam pertama dan kedua masih bisa dibilang kondusif. Di jam ketiga, jam fisika Pak Heri, kelas saya malah menonton berita TV dan tidak mengadakan KBM sama sekali. Di newsticker juga sudah tertulis bahwa Pemkot Yogyakarta sudah memperbolehkan untuk meliburkan KBM. Dan evaluasi untuk kelas 3 juga dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung. Luar biasa. Jackpot. Karena di setiap musibah pasti ada berkah yang mengikuti.
Dan subhanallah lagi, sekitar dhuhur, hujan turun dengan deras di daerah kosan saya hingga sekitar jam 3. Allah memang Maha adil.
***
Jam Bahasa Indonesia, Sabtu 30 Oktober 2010. Pak dion, guru pengampu mata pelajaran tersebut sedang di tengah menjelaskan materi. Sub bab paragraf argumentasi dan persuasi. Lalu pembicaraan menyerempet ke arah lain. Hal yang biasa dilakukan guru ini.
“Orang-orang jaman dulu memilih tempat tinggal di daerah yang subur. Oleh sebab itu, yang saat ini merupakan kota yang ramai berarti dulunya itu adalah daerah yang subur dan jelas banyak rejekinya. Seperti misalnya di daerah pegunungan atau di pantai. Tapi pasti ada resikonya jika tinggal di tempat seperti itu. Misalnya saja yang dekat gunung akan menjadi yang pertama terkena imbas gunung berapi, seperti Gunung Merapi saat ini. Lalu jika tinggal di daerah pesisir, tidak akan bisa lepas dari ancaman tsunami. Jadi kalau tinggal di daerah subur kita juga harus siap menerima resiko yang ada. Beda mungkin dengan di daerah yang agak jauh dari pantai atau gunung. Bencana yang mungkin muncul lebih minim dari yang dekat dengan sumber bencana...” begitu jelas beliau. Dan masih panjang lagi. Dan semakin meyimpang dari pelajaran.
Saya terpikirkan akan Bontang, hometown saya. Sepikir saya, untuk masalah perbencanalaman, Bontang terhitung aman. Karena walaupun dekat dengan pantai, tapi pantai tersebut hanya tersambung dengan Selat Malaka, yang mungkin selogika saya tidak akan manimbulkan tsunami sehebat perarian laut atau samudera. Bontang yang terletak di Pulau Kalimantan juga terbilang aman dari gempa karena istilahnya sudah ‘dibentengi’ oleh Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.
Tapi tetap ada ancaman bencana lain yang bukan timbul dari alam. Bontang, merupakan salah satu kota industri di Indonesia yang memiliki dua perusahaan BUMN yang bisa dibilang cukup besar. PT. PKT, Pupuk Kalimantan Timur, bahkan merupakan perusahaan pupuk terbesar di dunia—seingat saya, CMIIW. Dan satu lagi adalah PT. Badak yang merupakan perusahaan gas. Di bawah tanah Kota Bontang banyak terdapat pipa saluran gas. Entah gas buang atau gas bahan. Salah satu guru SD saya pernah bercerita kalau seandainya salah satu dari pipa bawah tanah itu bocor dan—naudzubillah—terjadi ledakan, maka ledakan itu akan merembet dan kemungkinan setengah dari Kota Bontang bisa menjadi korban.
Begitu dekat dan banyak bencana yang mungkin terjadi. Bontang yang saya anggap nyaman dan aman pun juga mempunyai ancaman tersendiri. Sayangnya saya belum juga sadar untuk tobat sepenuhnya. Anak labil. Ck
*random thoughts. efek samping malas belajar. playlist LESS.

1 comment:

deetbum said...

saya disebut sebut teman teman.. betapa bangganya. *another random thoughts