Kau pikir dengan hanya berdiam diri semua masalah akan terselesaikan? Kau salah. Salah besar. Dengan kediamandirimu, masalah yang ada akan bertambah besar. Speak up!
***
Majas itu mungkin cocok untukku. ‘Ia merasa sepi saat di sekitarnya ramai’. Begitupun aku. Hingar bingar hedonisme dunia selama ini pekat di kehidupan. Namun kenyataan yang aku rasakan justru sangat berbeda. Aku selalu merasa sendiri. Sepi. Hampa.
***
‘Jika aku bisa memilih, aku akan memilih untuk selamanya bersamamu’. ‘Aku mungkin bisa mati jika tak bersamamu’. Cuih. Lalu mengapa tidak sekarang saja kau mati? Bukankah kau sekarang tidak sedang bersamaku? Toh aku tak akan perduli dengan keberadaanmu. Selama ini yang berkata ‘aku tak bisa hidup tanpamu’ itu kan kamu. Jangan terlalu berpikir bahwa aku juga berpikiran yang sama denganmu. Maaf saja, tapi pikiranku tak akan sepicik pikiranmu. Dangkal.
***
Kau tak akan tau bagaimana perasaanku. Kau tak mengerti bagaimana rasanya menghadapi masalah di depan matamu. Kau tak mengerti sebagaimana keras aku mencoba namun tetap saja aku tak menemukan penyelesaiannya. Kau tak akan mengerti. Karena kau akan terus duduk di singgasanamu yang megah. Nyaman. Tak terpikirkan tentang masalah dunia. Tenang.
***
Dan ketika semua ide yang mengalir deras itu begitu saja lenyap ditelan restartnya komputer. Seketika itu pula perasaanku bercampur aduk. Sial!
***
Jalan di depan rumah masih ramai dengan kendaraan yang berlalu lalang. Maklumlah. Ini malam minggu yang biasa digunakan para pasangan untuk bermesra melepaskan penat setelah 6 hari berkutat dengan sumpeknya dunia. Apa yang biasa dilakukan para pasangan itu ya? Ah. Tak penting. Toh itu tak ada hubungannya denganku.
***
Seberapa penting arti pacar dalam hidupmu? Mengapa begitu banyak orang sibuk mencari pacar? Seberapa besar kepercayaan kau berikan pada pacarmu? Untukku, mungkin 0%. Tak ada garansi apapun, taka ada ikatan apapun yang menjamin untuk menyerahkan hati dan hidup untuk sang pacar tercinta. Tarohlah suatu ketika kau tak sengaja melakukan hal yang lebih dari batasan—walaupun pacaran itu sendiri juga merupakan sesuatu yang melebihi batasan—apakah pacar tercintamu itu akan dengan sukarela bertanggung jawab? Persentasenya kecil kawan. Tak usah terlalu bermimpi untuk bisa merasakan indahnya happy ending seperti yang biasa terjadi di film ataupun sinetron. Kenyataan hidup itu keras. Jauh lebih keras.
***
Merantau itu seperti sambal. Menarik untuk dicoba. Ada pedasnya tantangan, ada puasnya perasaan. Ada tangisan ketika rindu. Ada tawa ketika bertemu. Merantau memberikan banyak pengalaman yang mungkin tidak bisa kau temukan di kampung halamanmu.
***
Suara bass berdentum kencang. Hiruk pikuk sabtu malam yang meriah mulai terasa. Kepadatan di tengah kota semakin meningkat. Kendaraan merayap perlahan.
***
Whats the special thing of Saturday night? I think its the same night like others. There still difference though. The fact that tomorrow is obviously Sunday. But just that. Selebihnya tetap sama saja. Malam dengan langit yang gelap dan udara dingin yang menusuk. Sama. Saja. Bukankah begitu? Ataukah Sabtu malam terasa luar biasa karena para pasangan yang bisa kembali berasikmasyuk menikmati dunia mereka berdua? Ah. Dangkal. Lagi-lagi dangkal. Sebegitu dangkalnya sabtu malam diartikan.
***
‘Gedung sekolah di malam hari menyeramkan’. Itu yang banyak orang katakan. Saya termasuk salah satunya. Dengan lampu koridor yang menyala remang-remang, suara-suara yang menggema perlahan, dan pojokan kelas yang gelap. Dan sebuah sekolah tak akan lengkap jika tak disertai sejarah kelam dibaliknya. Dulu, SD saya kabarnya merupakan bekas rumah sakit. Tiap kelas merupakan bangsal-bangsal pengobatan. UKS adalah bekas gudang obat. UGD terletak di bagian yang sekarang merupakan aula sekaligus gedung olahraga. Sedangkan bagian belakang aula adalah tempat terseram dari sebuah rumah sakit. Tak lain dan tak bukan, kamar mayat. Teman saya banyak yang bercerita bahwa salah satu ruang di belakang aula yang terkunci adalah ‘markas’ suster ngesot. Saya yang saat itu hanyalah seorang anak SD dengan polosnya menerima statement tersebut. Hingga tiap olahraga dilaksanakan di aula, siswa piket yang harus mengambil alat olahraga di salah satu ruang belakang aula akan selalu mengajak minimal seorang teman untuk menemaninya. Penakut. itu pikir saya. Walaupun saya sadar seandainya saya yang bertugas pun mungkin saya akan sekaligus mengajak lima orang untuk menemani saya. Beruntung saya tak pernah mendapat tugas mempersiapkan alat olahraga.Dan saat ini, ketika saya akhirnya menuntut ilmu di sebuah SMA yang cukup ternama di kota Yogyakarta, hal seperti itu pun tetap ada. Ditambah lagi sekolah saya gedungnya sudah berumur lebih dari 50 tahun. Bahkan konon konstruksi gedungnya beberapa ada yang terbuat sejak jaman Belanda. Entahlah kenyataan mana yang benar. Kabar yang santer beredar adalah adanya penunggu setia sekolah. Perempuan. Dulunya ia juga adalah seorang siswi di sekolah saya. Namun entah karena alasan apa, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Di sekolah. Dan begitulah. Cerita ini bertahan lama selama beberapa generasi hingga sampai angkatan di bawah saya.
***
balkon gbpan. saturday 161010. ditemani playlist VIRUS!
No comments:
Post a Comment