Sunday, December 12, 2010

Kepercayaan? Atau Apa?

Semakin menipis. Itu yang mungkin bisa saya katakan tentang kepercayaan Teladan pada para siswanya. Hingga di ujian semesteran kali ini terpampang pernyataan yang harus kami tuliskan di lembar jawaban.

"Dengan nama Allah SWT, dalam mengerjakan soal UAS, sesungguhnya saya tidak akan berbuat kecurangan : menyontek, memberi atau meminta bantuan dalam memberi jawaban"

Kurang lebih seperti itulah kami disumpah sebelum mengerjakan soal. Apakah hal ini memberi efek pada para siswa? Some of them yes, not for the others. Lalu masuk ke yang manakah saya? Alhamdulillah dalam ujian di kelas 12 ini saya tidak pernah melakukan kecurangan. Kenapa? Apakah karena saya sudah sadar dan memilih berhenti berbuat maksiat untuk mendapatkan barokah di kelas 12 ini? Mungkin iya. Alasan yang lebih jelasnya adalah karena kelas saya berisi tipikal siswa yang kondusif. Kondusif untuk melakukan kejujuran. Berbeda dengan jaman kelas 11 dulu yang sepertinya sangat surga sekali untuk berbuat kecurangan.

Kembali pada kepercayaan. Seberapa parahkah kelakuan kami hingga sekolah memutuskan untuk membuat sumpah semacam itu? Mungkin memang benar bahwa degradasi moral terjadi. Semakin turun angkatan—kabarnya—semakin turun pula moral yang kami, para siswa Teladan, miliki. Terlihat dari berubahnya atmosfer Teladan. Dulu—kabarnya, lagi—Teladan adalah sekolah yang terkenal dengan kealiman para siswanya. Jilbab para siswinya yang terhitung cukup lebar dan kegiatan keagamaan yang cukup intens. Sebelum saya masuk Teladan pun, kabar seperti ini juga yang saya dengar. Terlebih di SMP saya yang notabene SMP Islam—nyaris pondok. Para ustadz dan ustadzah dulu menyarankan seandainya ingin meneruskan di sekolah negeri agar memilih SMAN 1 saja. Karena Insya Allah lingkungannya akan lebih terjaga. Saya pun dengan semangat reformasi memilih Teladan sebagai sekolah pilihan saya yang kedua—setelah MAN Insan Cendekia yang sangat saya idam-idamkan.

Setelah saya masuk dan merasakan segala cita rasa Teladan, saya mulai berubah pikiran. Di tahun pertama saya, saya masih berpikir, 'Wah, jadi begini yang disebut Teladan. Memang bagus ya kegiatan keagamaannya.' Bebauan moral yang baik tercium di atmosfer Teladan. Tapi menginjak semester kedua, saya mulai merasakan 'aslinya' Teladan seperti apa. Pikiran saya yang tadinya wah-begini-ya-Teladan berubah menjadi loh-begini-to-Teladan. Apakah karena saya yang giving too much expectations ke sekolah ini, atau memang begini adanya Teladan sebenarnya?

Lalu saya mendengar banyak kabar burung tentang warni-warni Teladan. Ternyata guru-guru juga berpendapat bahwa degradasi moral memang ada di Teladan. Saya sempat mendengar cerita dari beberapa guru, kakak kelas, dan teman-teman yang membandingkan antara angakatan terdahulu dan angkatan sekarang ini. mata saya mulai terbuka. Saya tidak menyalahkan Teladan. Saya juga tidak menyalahkan para muridnya, apalagi gurunya. Siapalah saya untuk seenaknya menjudge sesuatu yang bukan hak saya.

Memang sepertinya Teladan butuh kembali direnovasi menjadi Teladan yang dulu. Yang terkenal dengan keluhuran moralnya—okay, maybe I'm kinda talk too much nonsense here. Dimulai dari mana? Jelas dari para civitas akademiknya. Yah, mungkin salah satu wujud nyatanya adalah dengan 'sumpah UAS' yang sudah dilaksanakan ujian tempo hari. Susah ya mengembalikan kepercayaan yang sudah terlanjur hilang.


 

The same random thoughts of mine. Just trying out the blog post on my ms. word. Omong besarkah?

No comments: