‘Pokoknya mau gimana caranya, namaku di papan ruang BP yang selama ini selalu jadi buronan harus ganti jadi Nama Siswa yang Sudah Diterima di Perguruan Tinggi’ itu janji saya ketika di tingkat akhir SMA. Kemudian dengan berbagai keberuntungan dan faktor X yang entah bagaimana muncul, nama saya benar-benar muncul di papan BP bagian Siswa yang Sudah Diterima di Perguruan Tinggi. And thus, it automatically erased my bad image from my counseling teachers. Way to go!I remember back then, the first person that I met on registration was this guy with a weird name, I Nyoman Roslesmana. We sat beside each other while waiting our name called.“Mas-nya namanya Nyoman?” tanya saya demi mendengar nama uniknya dipanggil.“Err... iya?” jawab Mas Nyoman.Dan sampai sekarang, our first meeting menjadi bahan olokan paling ampuh yang bisa diserangkan Eros ke saya. Later I know, we even accidentally being on one tutorial, English tutorial to be exact. Dan celakanya tutorial bahasa inggris satu-satunya di angkatan 2011 which means we’re going to be together forever. Like, forever until the last block comes. Thanks God for the bitter reality.Promosi organisasi selanjutnya menjadi cerita menarik untuk saya putar ulang. Mulai dari HMJ Pendidikan Dokter yang saat itu masih bernama SEMAKU. Kemudian tim kesehatan yang sudah saya taksir sejak jaman MATAF dengan seragam hijau mereka, TBM. Lalu tim penelitian yang dulu disingkat M2ARS seingat saya. Dan satu yang paling membuat saya terpesona sebagai mahasiswa baru yang polos, MMSA—Muhammadiyah Medical Students’ Activities. Dan kepolosan saya inilah yang menggeret saya lebih jauh ke dalamnya.Di MMSA, saya menemukan banyak pengalaman baru. Salah satunya National Meeting. Pertemuan nasional pertama saya adalah National Leadership Summit di Kaliurang, Yogyakarta. Di nasmeet kali ini lebih menitikberatkan pada training, mulai dari Team Building, Communication Skills, and much more.Lalu di tahun pertama menjadi member MMSA, saya kembali menjanjikan diri saya, ‘Tahun depan, saya akan mencoba untuk menjadi official MMSA’. Mulailah petualangan saya mempersiapkan diri menjadi Vice President for Internal Affairs, jabatan yang ingin saya emban. Kepo sana sini, tanya ini itu, memantapkan hati, lalu majulah saya menjadi kandidat tunggal. In the end of the election, saya alhamdulillah terpilih untuk menjalankan amanah ini setahun ke depan bersama tim baru saya.Terpilih bukanlah suatu akhir, tapi justru sebuah awalan. Membangun keluarga baru di sebuah rumah yang sedang dibangun ternyata tidak mudah. Mengenali karakter dari tiap penghuninya, mempelajari desain rumah yang sudah ada, sembari mencoba untuk menatanya menjadi lebih apik.“Bek, ini kok gini ya? Menurutmu gimana?”“Kamu yakin mau kayak gini? Udah dipertimbangkan belum?”“Ngapain lah harus kayak gini. Prosedurnya kan udah jelas kayak gitu.”Dan segudang hal lain yang muncul di perjalanan satu tahun menjadi official. Belajar menguatkan diri, lahir batin, menghadapi berbagai tantangan dari tanggung jawab yang ada. Bersyukur sekali punya tim yang luar biasa di dalamnya.Lalu bagaimana dengan perkuliahan?“Ciye anak kedokteran sibuk banget ya mesti. Diajakin main gak pernah bisa terus.”“Kedokteran mahal banget kan? Anak kedokteran biasanya hedon sih ya.”“Capek banget ya kuliah kedokteran? Isinya hafalan semua gitu.”Sampai yang paling konyol, “Itu parkiran mobil apa showroom sih? Banyak amat mobilnya.”As a medical student, I’m definitely sure at least you got one of those comments. Exclude the last one.Pada kenyataannya, menjadi mahasiswa kedokteran di UMY tidak ‘sebegitunya’. Kembali ke time management dari tiap individu. That’s why, di blok 1 kami diajarkan keterampilan belajar. Terdengar remeh ya? Tapi percayalah, tidak ada ilmu yang sia-sia. Dan terbukti di blok-blok selanjutnya, ketika materi sudah masuk materi kedokteran sebenarnya—lengkap dengan berbagai praktikum, tutorial, skills lab, dan ujian blok—ilmu keterampilan belajar jadi sangat berguna.
And that was my failed used to be cerpen. So there was this competition from HMJ SEMAKU, cerita non fiksi karangan mahasiswa kedokteran. I guess the participant not that much so one of my friend which is apparently one of the organizer, asked me to send my story. Tapi begitulah, agaknya my way of writing something wasn't good enough to be called as cerpen. Terlalu sembarangan. Thanks to my blogging habit HAHA.
Lalu akhirnya, cerpen ini tidak selesai di waktu yang tepat dan juga terlalu lame untuk diteruskan. Daripada muspro, better to post it here. Sungguh tempat sampah HAHA.
No comments:
Post a Comment