It was the end of September. Hari Senin yang gabut di blok
13 yang sangat terasa selo, Kejiwaan. Bosan, malamnya entah bagaimana out of
the blue I had a sudden thought about going somewhere. Didorong kengidaman
Chacha Milktea, nekat saya ajak Lika ke daerah kota. Bukan jarak yang dekat
UMY-Gejayan untuk ditempuh. Ditambah malam hari dan hanya dengan motor. Apalagi
dua orang wanita yang mengendarainya. Tapi kemudian, tiba-tiba saja kami sudah
di kota. Dan tiba-tiba lagi, milktea sudah di tangan. Jazz Mben Senen menjadi
tujuan kami selanjutnya. Tujuan utama from the first time actually.
Jam menunjukkan pukul 08.45. Masih ada waktu sebelum Jazz
Mben Senen dimulai. Kami memutuskan untuk mengisi perut—yang sebenarnya masih belum
terasa kosong—dengan seporsi nasi goreng sapi di depan sebuah sekolah
yang agak lumayan terkenal walaupun masih tetap lebih terkenal SMAN 1 Teladan
Yogyakarta #uhuk. Sebut saja nasi goreng sapi Padmanaba.
Selesai mengisi space yang tersisa di rongga perut, kami melanjutkan
ke tujuan utama, JMS! Dan inilah JMS perdana saya selama nyaris 8 tahun hidup
di Jogja. Then, sampai di Bentara Budaya-slash-Kompas, lagu Just the Two of Us terdengar mengalun
dari arah panggung. Aransemennya asik. Setelah kami memarkirkan motor di bagian
ujung samping, segera kami merangsek di antara crowd untuk mendapatkan tempat
paling wenak aka tempat pewe. Kursi yang disediakan rupanya sudah fully
occupied. Akhirnya kami memilih bersender di dinding belakang jejeran kursi. Best
view actually. Jaraknya pas, silirnya dapet.
Selesai lagu Just the
Two of Us dari suatu band entah apa, 2 pembawa acara muncul meramaikan
acara. Which is surprisingly salah satu MC-nya adalah Mas Diwa Hutomo, salah
satu MC yang mengisi Melodical Project 2013. Kali ini partnernya bukan Mbak
Fania Zettira, tapi seorang lelaki di pertengahan umur 30—agaknya.
Saya lupa namanya.
Penampilan selanjutnya diisi oleh suatu UKM musik dari UPN. Kesemuanya
memegang perterompetan, which I don’t really understand the name of each type. Intinya
terompet, ditiup. HAHA. Kemudian mengalirlah alunan musik asik dari kesekian
belas performer ini. Keren! Para penyebul bernapas panjang. Saya yang bernapas
pendek ini ngos-ngosan sendiri menikmatinya.
Then, giliran Mas Diwa unjuk kebolehan dengan vokalnya. Suatu
lagu berjudul Di Bawah Bulan Purnama
dipilih. Total kewl! Di tengah performance, bergantian para pemain memainkan
solo instrumen mereka. Mulai dari keys, bass, dan drum. Kesemuanya seolah
bercumbu nikmat dengan instrumen yang dipegang. Hikmat. Kami yang menonton
seolah diajak menikmati sampai ke puncak bersama. Klimaks! I remember the name
of the bassist, Mas Yoga.
Dan hiburan yang menurut saya paling menghibur dan paling
sukses meningkatkan produksi serotonin adalah tidak lain dan tidak bukan,
dagelan dari kedua MC. Maksimal! Kebodohan obrolan, celetukan, dan berbagai
pilihan kata yang disuguhkan untuk kami para penonton bisa dengan pintar
mengembalikan kesadaran kami yang sempat dibawa pergi oleh performance
menakjubkan dari tiap pengisi JMS.
Kemudian berturut tampil performer lain yang tidak kalah
asik dari performance Mas Diwa. Gondo dkk, Mrongos Band, Papaku Bassist Band,
dan ada juga Ibu Presiden Band. Nama asli kah? Jelas bukan. Apa lagi kalau
bukan kerjaan dari kejeniusan duo MC JMS. Setiap performance diperkenalkan
dengan cara unik mereka dan diberi nama sesuai kreatifitas mereka. Stupidly
fun!
Chemistry antar pemain dalam tiap band terasa banget manisnya. Di depan, mereka seolah 'ngobrol' menggunakan alat musik mereka dengan pemain lain. Isi pembicaraan seperti hanya akan dimengerti oleh mereka, yang berbahasakan alat musik dan nada yang tercipta.
Anw, for those who doesn’t understand why the name is Jazz
Mben Senen, lemme explain it for you. Terutama untuk anak gaul non-Javanese—doesn’t
mean to be racist guys ;) Jadi, ‘mben’ means ‘tiap’. Jazz Mben Senen = Jazz
Tiap Senin. Sesuai dengan waktu diadakannya.
Dan satu lagi yang membuat saya kagum dengan siapapun
founder atau pioneer dari JMS ini. Jazz yang identik dengan high class people
bisa disulap menjadi lebih ringan, more enjoyable, dan terasa lebih luas
pangsanya. Lihat saja tempat pelaksanaannya, hanya di parkiran kantor Kompas,
dengan lighting dan seating seadanya, tapi sound tetap di kualitas primanya.
HTM aka harga tiket masuk? Nothing. Tapi kemudian baru saya paham ketika di
penghujung waktu, ada sebuah kotak yang dikelilingkan. Seikhlasnya.
Saya perhatikan juga para penikmat yang datang dengan
berbagai bentuk. Mbak-mbak yang berdandan seperti akan pergi ke mall, mbak-mbak
dengan tampilan seadanya, mas-mas dengan baju siap tidur, sampai mas-mas dengan
tampilan ala Afgan. Beberapa lansia di sekitar umur 60 were also spotted there.
See? JMS seemed like, jazz untuk rakyat. JUR. Apasih.
So there I was. Pulang dengan perasaan puas setelah akhirnya
bisa merasakan nikmatnya keasikan Jazz Mben Senen. Tanpa ingat bahwa besok
Selasa bukanlah SELOSO, SELOne manungSO—santainya manusia. Bahwa di Selasa
siang akan selalu ada tutorial. Dan kami belum mencari bahan sama sekali. Tapi worth
it kan, having no preparation for tutorial for the sake of JMS. HAHA.
![]() |
| Duo MC sedang memperkenalkan UKM musik UPN, Bra Section (?). As heard by me :" |
![]() |
| After performance of Mas Diwa and friends. Mas Yoga di belakang bersama bassnya. |
![]() |
| Band penutup, Ibu Negara Band. Drummernya HAHA |



No comments:
Post a Comment