Saturday, October 5, 2013

The Infamous Jazz Mben Senen



It was the end of September. Hari Senin yang gabut di blok 13 yang sangat terasa selo, Kejiwaan. Bosan, malamnya entah bagaimana out of the blue I had a sudden thought about going somewhere. Didorong kengidaman Chacha Milktea, nekat saya ajak Lika ke daerah kota. Bukan jarak yang dekat UMY-Gejayan untuk ditempuh. Ditambah malam hari dan hanya dengan motor. Apalagi dua orang wanita yang mengendarainya. Tapi kemudian, tiba-tiba saja kami sudah di kota. Dan tiba-tiba lagi, milktea sudah di tangan. Jazz Mben Senen menjadi tujuan kami selanjutnya. Tujuan utama from the first time actually.

Jam menunjukkan pukul 08.45. Masih ada waktu sebelum Jazz Mben Senen dimulai. Kami memutuskan untuk mengisi perutyang sebenarnya masih belum terasa kosongdengan seporsi nasi goreng sapi di depan sebuah sekolah yang agak lumayan terkenal walaupun masih tetap lebih terkenal SMAN 1 Teladan Yogyakarta #uhuk. Sebut saja nasi goreng sapi Padmanaba.

Selesai mengisi space yang tersisa di rongga perut, kami melanjutkan ke tujuan utama, JMS! Dan inilah JMS perdana saya selama nyaris 8 tahun hidup di Jogja. Then, sampai di Bentara Budaya-slash-Kompas, lagu Just the Two of Us terdengar mengalun dari arah panggung. Aransemennya asik. Setelah kami memarkirkan motor di bagian ujung samping, segera kami merangsek di antara crowd untuk mendapatkan tempat paling wenak aka tempat pewe. Kursi yang disediakan rupanya sudah fully occupied. Akhirnya kami memilih bersender di dinding belakang jejeran kursi. Best view actually. Jaraknya pas, silirnya dapet. 

Selesai lagu Just the Two of Us dari suatu band entah apa, 2 pembawa acara muncul meramaikan acara. Which is surprisingly salah satu MC-nya adalah Mas Diwa Hutomo, salah satu MC yang mengisi Melodical Project 2013. Kali ini partnernya bukan Mbak Fania Zettira, tapi seorang lelaki di pertengahan umur 30agaknya. Saya lupa namanya.

Penampilan selanjutnya diisi oleh suatu UKM musik dari UPN. Kesemuanya memegang perterompetan, which I don’t really understand the name of each type. Intinya terompet, ditiup. HAHA. Kemudian mengalirlah alunan musik asik dari kesekian belas performer ini. Keren! Para penyebul bernapas panjang. Saya yang bernapas pendek ini ngos-ngosan sendiri menikmatinya.

Then, giliran Mas Diwa unjuk kebolehan dengan vokalnya. Suatu lagu berjudul Di Bawah Bulan Purnama dipilih. Total kewl! Di tengah performance, bergantian para pemain memainkan solo instrumen mereka. Mulai dari keys, bass, dan drum. Kesemuanya seolah bercumbu nikmat dengan instrumen yang dipegang. Hikmat. Kami yang menonton seolah diajak menikmati sampai ke puncak bersama. Klimaks! I remember the name of the bassist, Mas Yoga.

Dan hiburan yang menurut saya paling menghibur dan paling sukses meningkatkan produksi serotonin adalah tidak lain dan tidak bukan, dagelan dari kedua MC. Maksimal! Kebodohan obrolan, celetukan, dan berbagai pilihan kata yang disuguhkan untuk kami para penonton bisa dengan pintar mengembalikan kesadaran kami yang sempat dibawa pergi oleh performance menakjubkan dari tiap pengisi JMS.

Kemudian berturut tampil performer lain yang tidak kalah asik dari performance Mas Diwa. Gondo dkk, Mrongos Band, Papaku Bassist Band, dan ada juga Ibu Presiden Band. Nama asli kah? Jelas bukan. Apa lagi kalau bukan kerjaan dari kejeniusan duo MC JMS. Setiap performance diperkenalkan dengan cara unik mereka dan diberi nama sesuai kreatifitas mereka. Stupidly fun!

Chemistry antar pemain dalam tiap band terasa banget manisnya. Di depan, mereka seolah 'ngobrol' menggunakan alat musik mereka dengan pemain lain. Isi pembicaraan seperti hanya akan dimengerti oleh mereka, yang berbahasakan alat musik dan nada yang tercipta.

Anw, for those who doesn’t understand why the name is Jazz Mben Senen, lemme explain it for you. Terutama untuk anak gaul non-Javanesedoesn’t mean to be racist guys ;) Jadi, ‘mben’ means ‘tiap’. Jazz Mben Senen = Jazz Tiap Senin. Sesuai dengan waktu diadakannya.

Dan satu lagi yang membuat saya kagum dengan siapapun founder atau pioneer dari JMS ini. Jazz yang identik dengan high class people bisa disulap menjadi lebih ringan, more enjoyable, dan terasa lebih luas pangsanya. Lihat saja tempat pelaksanaannya, hanya di parkiran kantor Kompas, dengan lighting dan seating seadanya, tapi sound tetap di kualitas primanya. HTM aka harga tiket masuk? Nothing. Tapi kemudian baru saya paham ketika di penghujung waktu, ada sebuah kotak yang dikelilingkan. Seikhlasnya.

Saya perhatikan juga para penikmat yang datang dengan berbagai bentuk. Mbak-mbak yang berdandan seperti akan pergi ke mall, mbak-mbak dengan tampilan seadanya, mas-mas dengan baju siap tidur, sampai mas-mas dengan tampilan ala Afgan. Beberapa lansia di sekitar umur 60 were also spotted there. See? JMS seemed like, jazz untuk rakyat. JUR. Apasih.

So there I was. Pulang dengan perasaan puas setelah akhirnya bisa merasakan nikmatnya keasikan Jazz Mben Senen. Tanpa ingat bahwa besok Selasa bukanlah SELOSO, SELOne manungSOsantainya manusia. Bahwa di Selasa siang akan selalu ada tutorial. Dan kami belum mencari bahan sama sekali. Tapi worth it kan, having no preparation for tutorial for the sake of JMS. HAHA.
Duo MC sedang memperkenalkan UKM musik UPN, Bra Section (?). As heard by me :"

After performance of Mas Diwa and friends. Mas Yoga di belakang bersama bassnya.

Band penutup, Ibu Negara Band. Drummernya HAHA

No comments: