Masih di senja yang sama. Masih di rooftop yang sama. Aku dan
kamu. Menikmati angin senja, sinar mentari senja, dan keheningan di antara
kita. Aku dan kamu.
Entah sejak kapan, aku semakin menikmati senja di rooftop
denganmu. Rutinitas monoton yang entah bagaimana sama sekali tidak terasa
membosankan untukku. Entah apa yang membuatku betah. Angin senja kah? Sinar mentari
senja kah? Ataukah keheningan nyata di antara kita? Entahlah.
Sampai satu hari, saat anomali itu datang. Kamu mencoba
memecah keheningan.
‘Kenapa?’ katamu. Ekspresimu tetap datar, sambil melihat ke
kejauhan. Matamu lekat memandangi gedung-gedung di sekitar rooftop sore itu.
‘Kenapa aku dan kamu?’ kali ini kamu memalingkan pandanganmu
dan ganti menatapku lekat.
Tapi tidak ada yang bisa menjawab. Pun aku, yang masih
terdiam heran dengan pertanyaanmu. Harus kujawab apa pertanyaanmu itu? Aku paham,
kenapa pasti akan dijawab dengan karena. Tapi aku tidak menemukan karena yang tepat untuk kenapa-mu.
Dan hari itu, keheningan yang canggung menyelimuti aku, kamu, dan rooftop hingga matahari terbenam.
***
Seberapa gelap kah gelap?
Seberapa terang kah terang?
Seberapa semu kah semu?
Seberapa nyata kah nyata?
Katamu, coba rasakan langit di jam 2 pagi, maka aku akan tau
seberapa gelapnya gelap. Namun berapa kali pun kucoba merasakan langit jam 2
pagi, tetap tidak bisa memahamkanku tentang gelap.
Lantas, seberapa gelap kah gelap?
Katamu, coba rasakan mentari di jam 2 siang, maka aku akan
tau seberapa terangnya terang. Namun berapa kali pun kucoba merasakan langit
jam 2 siang, tetap tidak bisa memahamkanku tentang terang. Lantas, seberapa terang kah terang?
Katamu, semu itu tidak ada. Semu itu bayangan. Apakah aku
dan kamu ini semu?
Katamu, nyata berarti dapat dirasakan. Aku dapat
merasakanmu. Tapi apakah aku dan kamu ini nyata?
***
People has their own peak season. Dan untuk saya, mungkin
sekarang inilah waktunya. Entah mengapa semuanya terasa menyesakkan,
memabukkan, overdosed. Rasanya ingin ‘sudah’ dulu.
No comments:
Post a Comment