Wednesday, December 28, 2011

Membuang Sampah di Pagi Hari


Mempunyai sangat banyak amanah. Entah bagaimana ceritanya. Dan saya berharap segala amanah ini segera terlaksana dan terselesaikan. Walau pada kenyataannya perjalanan menuju ke arah pelaksanaan lumayan terjal dan butuh pengorbanan banyak. Rasanya ingin melepaskan segala tanggung jawab yang saya pegang. Tapi pengecut gak akan maju kan ya. Ini yang saya tulis di twitter saya pagi ini. Rasanya ingin kembali ke indahnya leyeh-leyeh di jaman SMA. Tapi berarti gak ada bedanya saya yang sekarang dengan yang dulu. Rasanya ingin menghilang sejenak. Tapi lagi, pengecut namanya.

Kembali disadarkan betapa yang namanya hidup itu gak mudah. Merasa hidup mudah berarti sebenarnya seseorang itu gak hidup. Mati aja masih ada susahnya. Apalagi hidup.

***

Dan sepertinya akhir-akhir ini saya sedikit futur. Tau futur kan? Semacam kemunduran dalam hal diin. Saya kembali sedikit menjadul. Menjadi diri saya yang dulu. Yang shalat terlambat, yang shalat sunnah sering tidak mengerjakan, yang al-ma’tsurat keteteran, yang bahkan kadang meninggalkan shalat wajib. Astaghfirullah. I’ve read someone’s twit that said ‘gimana sih caranya ngobati futur?’ ‘kowe googling wae video sakaratul maut’ JLEB. Thats truly right. Tapi gimana sih ntar jadinya ketika semuanya dikerjakan hanya karena ketakutan semata? Tapi tanpa ketakutan itu gak bakalan dikerjakan apa-apanya. Nah lo.

***

Suatu sore di korner amphi B FKIK UMY.
“ya biasa aja dong bek bibirnya”
“kenapa? gak suka? apa suka banget?”
suka banget
Dan seketika orang bodoh yang mendengarnya terbang ke langit ke sekian. Bodoh. Hello there, bisa biasa aja kan you. Ck.

***

Suatu sore—lagi—di sebuah kafe jalan kaliurang.
“eh itu kan yang trio macan suka gombal itu bukan?”
“hah? itu sih waktu kita fnmd. ini beda”
Gotcha. Got his ‘kebocoran’. Serapi-rapinya seseorang menata files dalam otaknya, tetap saja ada sedikit yang tercecer.

***

H-1 tentamen perdana. Tentamen. Ujian anatomi. Dan. Itu. Saya. Bleng. Masih belum tau bagaimana nasib saya nanti. Sementara persiapan masih 10%. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

***

SKALA PRIORITAS. Mana penting urgen. Mana penting. Mana urgen. Jadi yang mana Nik yang penting urgen, penting, dan urgen? Nah. Ini yang masih kelabakan saya bagi. Banyak what if’s yang bermunculan di otak. ‘If’ yang belum bisa diwujudkan. Ingin segera mem’was’kan ‘ifs’ yang ada.

why do i always suck at giving a title. ergh.

No comments: