Sangat baru saja, malam ini terjadi hal luar biasa yang subhanallah menginspirasi.
Seorang teman saya yang merupakan stakeholder pada sebuah komunitas entah dengan alasan apa meluapkan emosi di depan forum dengan cara yang membuat saya pribadi menjadi tidak respek dengannya. Rupanya setelah ditelusur, teman saya ini memang sedang tidak enak badan dan sejak awal agenda tidak terlihat 'masuk' di acara.
Darinya, saya mengambil sebuah pelajaran. Bahwa bersikap profesional tidak semudah teori. Anda boleh memiliki skill selangit, pengalaman segudang, tapi ketika anda masih belum bisa bersikap profesional, maka akan sangat disayangkan, rasa respek dari orang lain mungkin akan rendah untuk anda.
Bolehlah beralasan kalo terlalu banyak pressure yang anda terima sehingga mentrigger sikap yang kurang profesional. Saya pun pernah merasakan pressure. Dengan tetap positif thinking, saya beranggapan mungkin memang tipe pressurenya beda. Di komunitas lama saya ketika saya menjadi stakehokder dengan komunitas baru saya yang saya hanya menjadi bagian awam. Tapi kembali lagi, tipe pressure yang beda bisa saja memberi level pressure yang sama. Paham? Kembali lagi ke daya tahan dan reaksi dari masing masing individu. Bisakah dengan pressure yang didapatkan menjadikan dia bersikap profesional atau justru bersikap lemah.
Sungguh, ketika anda melakukan hal yang tidak pantas walaupun itu demi suatu kebaikan, hasilnya tidak akan sebaik ketika anda melakukannya dengan benar.
Dan di satu titik, saya semakin paham bahwa kompetensi akan menjadi nothing ketika anda tidak bisa membawa diri anda dengan tepat.
Bahwa masih harus banyak belajar untuk membedakan kapan harus bersikap profesional tanpa membawa masalah personal.
Bahwa saya bersyukur diberi kesempatan belajar di banyak tempat dengan tipe pressure yang berbeda.
Bahwa saya semakin bersyukur dengan segala pressure yang pernah saya rasakan.
No comments:
Post a Comment