Ketika kamu tau bahwa kamu dihadapkan di depan traffic light
yang sedang menyala merah. Stop. Itu yang coba disampaikan oleh si traffic
light. Merah berarti berhenti. Tapi kamu tidak mau berhenti. Kamu menerobos
lampu yang menyala merah terang itu meski kamu tau konsekuensi apa yang akan
kamu dapatkan. Ditilang polisi, dimaki pengendara lain, or worst; kamu
kecelakaan.
Sama halnya seperti sintesis protein. It has it’s own start
kodon and stop kodon. Kamu tau dan sangat mengerti, kamu sudah mencapai kodon
stop. Kamu harus menghentikan sintesis yang sedang berjalan. Tapi kamu
memaksakan untuk terus menyintesis apa yang sedang kamu sintesis. Dan kamu tau
konsekuensi apa yang akan terjadi. Metabolisme tidak stabil, merusak homeostasis,
and worst; kamu akan mengubah seluruh sistem yang ada.
The big but is, how much you know the consequences are, you
still try to break it. Kamu terus maju tanpa peduli dengan banyak konsekuensi
yang harus dan akan kamu tanggung ke depannya.
Someone said to me ‘ketika kamu sudah memutuskan sesuatu, do
whatever it takes and take whatever the risks are’. Dan beranikah saya
mengambil risiko-risiko yang mungkin akan muncul nantinya? BELUM.
Lalu, modal nekat kah saya? Tidak juga. Sejujurnya saya
sendiri belum sebegitu nekatnya. I’m a coward, to be frank. Ketika saya tau
akan ada jutaan konsekuensi dari setiap langkah saya, saya tidak serta-merta
menerobosnya seperti apa yang saya tulis di atas. Saya diam dan
mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang muncul dari tiap plan yang bisa saya
ambil.
So does it. Untuk kebingungan saya ini, I myself realize that
I became different. Saya cenderung menarik diri setelah sadar akan hal ini. Semuanya
berubah—untuk
saya. Dari yang dulunya merasa nyaman dengan hal apapun yang akan saya lakukan,
sekarang saya lebih banyak pertimbangan. Not to mention the awkward feeling
that came everytime it happened. HAHA. SHOT.
How I hate this feeling actually. Bisa gak sih bertindak
sewajarnya, HAH? Tidak mudah.
And worst of all, saya bahkan sempat beharap jahat. Karena sesungguhnya
‘bahagia ketika melihatnya bahagia walaupun bersama orang lain’ is such a
bullshit. Doesn’t it?
Shush! Jangan sampai saya menjadi orang jahat yang
bersenang-senang di atas kegalauan orang lain lah. Astaghfirullah. Khilaf :|
Here I hope the best for you, dude. Beat yourself :')
No comments:
Post a Comment