Tuesday, November 20, 2012

Tentang Lampu Merah dan Teman-Temannya



Ketika kamu tau bahwa kamu dihadapkan di depan traffic light yang sedang menyala merah. Stop. Itu yang coba disampaikan oleh si traffic light. Merah berarti berhenti. Tapi kamu tidak mau berhenti. Kamu menerobos lampu yang menyala merah terang itu meski kamu tau konsekuensi apa yang akan kamu dapatkan. Ditilang polisi, dimaki pengendara lain, or worst; kamu kecelakaan.

Sama halnya seperti sintesis protein. It has it’s own start kodon and stop kodon. Kamu tau dan sangat mengerti, kamu sudah mencapai kodon stop. Kamu harus menghentikan sintesis yang sedang berjalan. Tapi kamu memaksakan untuk terus menyintesis apa yang sedang kamu sintesis. Dan kamu tau konsekuensi apa yang akan terjadi. Metabolisme tidak stabil, merusak homeostasis, and worst; kamu akan mengubah seluruh sistem yang ada.

The big but is, how much you know the consequences are, you still try to break it. Kamu terus maju tanpa peduli dengan banyak konsekuensi yang harus dan akan kamu tanggung ke depannya.

Someone said to me ‘ketika kamu sudah memutuskan sesuatu, do whatever it takes and take whatever the risks are’. Dan beranikah saya mengambil risiko-risiko yang mungkin akan muncul nantinya? BELUM. 

Lalu, modal nekat kah saya? Tidak juga. Sejujurnya saya sendiri belum sebegitu nekatnya. I’m a coward, to be frank. Ketika saya tau akan ada jutaan konsekuensi dari setiap langkah saya, saya tidak serta-merta menerobosnya seperti apa yang saya tulis di atas. Saya diam dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan yang muncul dari tiap plan yang bisa saya ambil. 

So does it. Untuk kebingungan saya ini, I myself realize that I became different. Saya cenderung menarik diri setelah sadar akan hal ini. Semuanya berubahuntuk saya. Dari yang dulunya merasa nyaman dengan hal apapun yang akan saya lakukan, sekarang saya lebih banyak pertimbangan. Not to mention the awkward feeling that came everytime it happened. HAHA. SHOT. 

How I hate this feeling actually. Bisa gak sih bertindak sewajarnya, HAH? Tidak mudah.

And worst of all, saya bahkan sempat beharap jahat. Karena sesungguhnya ‘bahagia ketika melihatnya bahagia walaupun bersama orang lain’ is such a bullshit. Doesn’t it?

Shush! Jangan sampai saya menjadi orang jahat yang bersenang-senang di atas kegalauan orang lain lah. Astaghfirullah. Khilaf :|

Here I hope the best for you, dude. Beat yourself :')

No comments: