Wednesday, May 2, 2012

First Komuda & Trip to Semarang!


KOMUDA! Also known as koass muda. Di mana para mahasiswa kedokteran mencoba untuk terjun langsung ke lapangan baik di rumah sakit atau puskesmas tapi hanya sekedar pada level memperhatikan kerja dokter dan melihat rekam medis pasien. Belum bisa untuk melakukan tindakan. Ya mungkin bisa untuk tindakan kecil seperti pemasangan infus atau yang lain. 

Nah kesempatan emas yang menyenangkan ini baru saja saya rasakan di blok 5 ini. Blok tentang metabolisme dan regulasi. Sesuai dengan temanya, kami diharuskan mencari kasus yang berhubungan dengan edema, hipoglikemi, syok, atau yang lain yang berhubungan dengan metabolisme atau regulasi. Begitulah sedikit intro.

Di hari-H, 28 April 2012, saya dan kelompok komuda saya mendapat giliran di RSUD Muntilan. FYI, ini adalah rumah sakit terjauh dari semua rumah sakit yang terdaftar untuk dikomudai. Kelompok lain ada yang mendapatkan di PKU kota, PKU Bantul, RSUD Wates dan sekitar kampus yang hanya berjarak sekian kilometer. Sementara kampus-Muntilan jaraknya subhanallah dan bisa memakan waktu satu jaman sendiri untuk ke sana. Mumpung komuda juga kebetulan waktu weekend, hari Sabtu. Dikarenakan jauh inilah kelompok saya memutuskan untuk sekalian plesir habis komuda dengan trip yang gak main-main. Semarang! Ini udah lebih mending dari pilihan awal yang rencananya mau ke Dieng, Wonosobo. Edanlah. 

Begitulah. Trip dimulai. Kelompok saya yang bersepuluh terbagi ke 4 mobil. Maruk banget, I know. Menuh-menuhin parkiran rumah sakit juga jadinya. Jam 7 kumpul di kampus dan cus ke RSUD Muntilan. Di sana awalnya ke Komite Medik dulu. Ada semacam intro dari pihak rumah sakitnya. Kemudian kami diantar ke bangsal masing-masing. Saya dan 3 teman saya yang lain—Prastika, Hastin, dan Kiyud—mendapatkan bangsal melati. Yang hamdalahnya dapet giliran visite paling pagi. Tapi naudzubillahnya dapet perawat yang atos. Galak binti judes. Yah tak apalah. Sambil nungguin dokternya dateng, kami mencatat rekam medis pasien yang sesuai dengan kasus yang harus dicari. Bukan mencatat juga sih, lebih tepatnya memfoto. Ck kemajuan teknologi, kemunduran SDM kalo gini ya namanya. Yasudahlah. Kemudian sekitar jam 9 muncullah dokternya, dr. Prima S.Pd. Internist. Cucok dengan blok kita yang mempelajari penyakit dalam. Dan setelah penantian sekian lama, ternyata visite hanya butuh tidak sampai 15 menit sodara-sodara. Subhanallah. Tapi untung juga udah bisa tau langsung ulkus karena DM itu kayak apa—and believe me you don’t want to see it. Juga udah tau gimana bedanya napas orang asma, yang biasa disebut wheezing. Mak ngiiik gitu.

Beres ngintili dokter visite, pamitan ke para staff bangsalnya. Bedeuh, masih aja diatosin sama mbak perawat yang satu itu. Untung inisiatif salaman duluan, jadi mbaknya masih mau salaman. 3 temen saya yang mau salaman sehabis saya dicuekin bok sama si mbak perawat. Widiih pada gondok dong. Yasudahlah resiko masih calon dokter ingusan.
Hastin, Saya, Mbak Uci, Kiyud, Fitri, Prastika @ Bangsal Aster
Komuda Kelompok D RSUD Muntilan

Lanjut main ke 2 bangsal lain tempat teman saya yang lain komuda. Ternyata mereka belum visite. Dan justru dokter bedah yang ternyata ayah dari teman kami yang visite. Gak bisa dong minta tanda tangan ke dokternya secara si dokter bukan internist. Lanjutlah menunggu hingga dhuhur pun tiba. Akhirnya kami memutuskan untuk titip tanda tangan ke kelompok komuda besok Senin. Maka dimulailah trip plesir kami.

Awalnya masih mau nunggu satu orang dari kelompok komuda lain yang mau ikut plesir, si Akbar. Tapi berhubung sudah semakin siang dan oknum tidak juga fix berangkat, maka kami tinggallah dia. Yang berujung pada kemuringan dan kewajiban pemberian oleh-oleh. 

Trip awal ke rumah Hastin, di Magelang. Ceritanya Hastin gonna treat us for lunch dan mau sekalian nitipin mobilnya Mbak Uci karena terhitung kebanyakan kalo bawa 3 mobil hanya untuk 6 orang. Beteweh 3 dari kelompok komuda ini gak bisa ikut trip karena ada urusan which is Astro, Kiyud, dan Febri. Mereka balik ke Jogja.

Kelar mencinoi makanan di rumah Hastin, kemi berenam cus lanjut ke Semarang sekitar jam 3 sore. Di mobil Adit ada saya dan Fitri, sementara di mobil Prastika ada Mbak Uci dan Santin. Perjalanan menuju Semarang diwarnai dengan suasana menegangkan di mobil Adit dikarenakan bensinnya yang nyaris mepet empty. Adit said si bensin cuma bisa cukup kurang lebih 2 kiloan lagi. Nah loh. Padahal posisi kami semacam di tengah hutan. Inhale exhale. Ngarep banget nemu SPBU. Dan begitu nemu subhanallaaaahh rasanya kayak habis konstipasi dan kemudian bisa boker dengan lancar. LEGA!

 Sampai Semarang, jemput masnya Prastika dulu di daerah Bandungan, lanjut cus ke Semarang kota buat jemput temennya si mas. Lemme introduce masnya ini. Yang pertama Mas Yoga, KU Unisula 2006, dan Mas Nanda, same as the first one. Jadi ceritanya mereka ini dokter muda aka koass. Bangga dong bok di-guide-in sama koass. Opoh. Dan ternyata Mas Yoga ini dulu LOCO CIMSA Unisula di jamannya hlo. Wauw.

Oke. Lanjutkan trip. Pertama kita ke Pecinan. Banyak orang cinanyaa. Yekali namanya juga Pecinan. Dan masakan berbau babi banyak dan sangat mudah ditemukan. Was-was juga sih seandainya mau makan di sana. Dan untunglah Allah Maha Tahu dengan menurunkan hujan yang teramat deras subhanallah. Sayangnya tempat berteduh di sana dikit banget. Cuma ada tenda kecil dan emperan toko yang sempit. Begitulah, gak ada satupun dari kami yang luput dari hujan. Lebih tepatnya lagi kebes. Basah kuyup. Setelah sedikit reda, maka kami memutuskan untuk cus saja dan mencari tempat lain. Oh dan FYI, hujan yang cuma sekian menit itu sukses bikin banjir daerah pecinan. Yak, banjir. ‘Beginilah. Selamat datang di Semarang!’ that’s what Mas Yoga said.
basah!

deresss like what

yes. that high. the flood.

semarang dan banjirr

Tujuan selanjutnya, jelas isi perut. Gak tau lah dibawa ke mana kami ini, tapi kami berakhir di suatu resto unyu di ujung perempatan entah di daerah apa yang bernama Rumah Beringin. Seingat saya. Dan lagi-lagi, banyak didominasi Cina. Ini Semarang kota macam apa dah udah berasa kayak di luar negeri aja saya. Dan makanannya juga berbau Cina. Tapi thumbs up lah buat rasanya. Beberapa bumbunya bisa ngingetin saya ke taste rumah ala ala Bontang getoh.


bihun ayam panggang ft. jus wortel tomat sluurrp :9

Kelar makan, dan ternyata kami adalah pelanggan terakhir, lanjut lagi dong tripnya. Kali ini kami melaju ke Lawang Sewu. Yak, tempat wisata wajib incar di Semarang. Sayangnya karena sudah terlalu malam, jam kunjung wisatawan sudah berakhir. Yasudahlah, kami hanya bisa menikmati dari luar pagar. Sayang sekali. Maka kami memutuskan untuk berfoto-foto dari tengah bundaran yang ada di seberang Lawang Sewu.




lawang sewu!



Mulai mendekati tengah malam, tujuan selanjutnya segera kami jamah. Entah apa sebutannya kalo di Semarang, tapi kami di Jogja menyebutnya Bukit Bintang. Daerah perbukitan di mana orang bisa menikmati keindahan lampu kota di malam hari. Jadi bukan berarti bintang yang di atas, tapi bintang yang dibawahlah yang dijadikan objek utama. Tapi berhubung sudah terlanjur tepar, jadi cuma bisa sebentar di sana. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah host kami. Betewe ada perubahan dari rencana awal kami untuk numpang menginap di rumah Mas Yoga daerah Bandung, menjadi rumah Mas Nanda di daerah kota. Kata Mas Yoga rumah Mas Nanda kosong. Baiklah, kami terima tawarannya walaupun berasa gak enak juga karena semacam dadakan dan lebih lagi kami mengenal Mas Nanda belum sampai 24 jam. Beda dengan Mas Yoga yang notabene adalah masnya Prastika. 

Jadi begitulah, sampai di rumah Mas Nanda, ternyata kami disambut kedua orangtuanya. Ngek. Tambah sungkan lagi dong bok. Udah pulang tengah malem, penguk bau habis keujanan, bawa rombongan seabrek, dan dadakan. Tapi subhanallah banget ortunya baiiiikkk buanget. Wong jowo. 

Paginya, kami harus segera cabut balik ke Jogja karena ada Emergency Meeting MMSA di jam 8. Tapi karena ceritanya kecapekan, rencana berangkat jam 6 pun mundur sampai jam setengah 8 karena bangun kesiangan plus ramah tamah dulu sama ibunya Mas Nanda. Sampe disiapin kopi anget, teh anget, plus jajanan khas Semarang made in si tante. Subhanallah gak bisa berhenti sungkan lah. Dan ternyata si tante ini pecinta kucing. Ada kurang lebih 5 ekor kucing di rumah Mas Nanda. DAN ADA SATU ANAK KUCING UNYU YANG SAYA TAKSIR AAAAAAA. Cintaku tertinggal di Semarang baca: kucing item unyu). Ngganjel banget sebenernya antara pengen bawa si anak kucing ke Jogja, tapi gak punya kandang carriernya, dan belum ngerti gimana cara ngurusnya, dan kamar juga kecil banget. Ergh ngganjel SUNGGUH. 



pengen bungkus yang ini :3

depan rumah Mas Nanda

Perjalanan balik wajib mampir ke rumah Hastin lagi buat ngambil mobilnya Mbak Uci. Dan di sana kami disuguhi sarapan lagi. Subhanallaaahh gak abis-abis syukur karena udah dapet banyak bantuan menyenangkan dari orang-orang baik ini. Begitulah, kami baru sampai di Jogja masuk waktu dhuhur, bertepatan dengan istirahat makan siang EM MMSA which means kami melewati lebih dari setengah EM. Tapi ternyata inti dari EM juga baru mulai setelah istirahat siang itu. Good.

Trip ini juga gak luput dari berbagai muring-muringan karena tersesat yang gak cuma sekali. Namanya juga daerah orang kan ye bok, jadi maklum dong kalo nyasar. Dan sialnya nyasar tol itu sama sekali gak asik karena kami jadi harus ngeluarin duit tol yang lebih mahal dari tol sebelumnya, 2000 rupiah, dan di tol nyasaran kami harus merogoh kocek 5500. Mangap dong ye.  Tapi worth it juga sih dengan pemandangan yang kami lewati.



pemandangan tol Ungaran. gak bakal tau kalo gak nyasar.


perhatikan nama toko, kemudian perhatikan barang yg dijual

So, that’s it! Super hectic story of my first komuda. Norak abis ye sampe 3 halaman ms word loh ini. Padahal besok lusa, Kamis 3 Mei 2012, ada MCQ I. Ini malah blogging. Tak ape lah ye. Yukmari kawans.

No comments: