KOMUDA! Also known as koass muda. Di mana para mahasiswa
kedokteran mencoba untuk terjun langsung ke lapangan baik di rumah sakit atau
puskesmas tapi hanya sekedar pada level memperhatikan kerja dokter dan melihat
rekam medis pasien. Belum bisa untuk melakukan tindakan. Ya mungkin bisa untuk
tindakan kecil seperti pemasangan infus atau yang lain.
Nah kesempatan emas yang menyenangkan ini baru saja saya
rasakan di blok 5 ini. Blok tentang metabolisme dan regulasi. Sesuai dengan
temanya, kami diharuskan mencari kasus yang berhubungan dengan edema,
hipoglikemi, syok, atau yang lain yang berhubungan dengan metabolisme atau
regulasi. Begitulah sedikit intro.
Di hari-H, 28 April 2012, saya dan kelompok komuda saya
mendapat giliran di RSUD Muntilan. FYI, ini adalah rumah sakit terjauh dari
semua rumah sakit yang terdaftar untuk dikomudai. Kelompok lain ada yang
mendapatkan di PKU kota, PKU Bantul, RSUD Wates dan sekitar kampus yang hanya
berjarak sekian kilometer. Sementara kampus-Muntilan jaraknya subhanallah dan
bisa memakan waktu satu jaman sendiri untuk ke sana. Mumpung komuda juga
kebetulan waktu weekend, hari Sabtu. Dikarenakan jauh inilah kelompok saya
memutuskan untuk sekalian plesir habis komuda dengan trip yang gak main-main.
Semarang! Ini udah lebih mending dari pilihan awal yang rencananya mau ke
Dieng, Wonosobo. Edanlah.
Begitulah. Trip dimulai. Kelompok saya yang bersepuluh
terbagi ke 4 mobil. Maruk banget, I know. Menuh-menuhin parkiran rumah sakit
juga jadinya. Jam 7 kumpul di kampus dan cus ke RSUD Muntilan. Di sana awalnya
ke Komite Medik dulu. Ada semacam intro dari pihak rumah sakitnya. Kemudian kami
diantar ke bangsal masing-masing. Saya dan 3 teman saya yang lain—Prastika,
Hastin, dan Kiyud—mendapatkan bangsal melati. Yang hamdalahnya dapet giliran
visite paling pagi. Tapi naudzubillahnya dapet perawat yang atos. Galak binti
judes. Yah tak apalah. Sambil nungguin dokternya dateng, kami mencatat rekam
medis pasien yang sesuai dengan kasus yang harus dicari. Bukan mencatat juga
sih, lebih tepatnya memfoto. Ck kemajuan teknologi, kemunduran SDM kalo gini ya
namanya. Yasudahlah. Kemudian sekitar jam 9 muncullah dokternya, dr. Prima S.Pd.
Internist. Cucok dengan blok kita yang mempelajari penyakit dalam. Dan setelah
penantian sekian lama, ternyata visite hanya butuh tidak sampai 15 menit
sodara-sodara. Subhanallah. Tapi untung juga udah bisa tau langsung ulkus
karena DM itu kayak apa—and believe me you don’t want to see it. Juga udah tau
gimana bedanya napas orang asma, yang biasa disebut wheezing. Mak ngiiik gitu.
Beres ngintili dokter visite, pamitan ke para staff
bangsalnya. Bedeuh, masih aja diatosin sama mbak perawat yang satu itu. Untung inisiatif
salaman duluan, jadi mbaknya masih mau salaman. 3 temen saya yang mau salaman
sehabis saya dicuekin bok sama si mbak perawat. Widiih pada gondok dong. Yasudahlah
resiko masih calon dokter ingusan.
![]() |
| Hastin, Saya, Mbak Uci, Kiyud, Fitri, Prastika @ Bangsal Aster |
| Komuda Kelompok D RSUD Muntilan |
Lanjut main ke 2 bangsal lain tempat teman saya yang lain
komuda. Ternyata mereka belum visite. Dan justru dokter bedah yang ternyata
ayah dari teman kami yang visite. Gak bisa dong minta tanda tangan ke dokternya
secara si dokter bukan internist. Lanjutlah menunggu hingga dhuhur pun tiba. Akhirnya
kami memutuskan untuk titip tanda tangan ke kelompok komuda besok Senin. Maka dimulailah
trip plesir kami.
Awalnya masih mau nunggu satu orang dari kelompok komuda
lain yang mau ikut plesir, si Akbar. Tapi berhubung sudah semakin siang dan
oknum tidak juga fix berangkat, maka kami tinggallah dia. Yang berujung pada
kemuringan dan kewajiban pemberian oleh-oleh.
Trip awal ke rumah Hastin, di Magelang. Ceritanya Hastin
gonna treat us for lunch dan mau sekalian nitipin mobilnya Mbak Uci karena
terhitung kebanyakan kalo bawa 3 mobil hanya untuk 6 orang. Beteweh 3 dari
kelompok komuda ini gak bisa ikut trip karena ada urusan which is Astro, Kiyud,
dan Febri. Mereka balik ke Jogja.
Kelar mencinoi makanan di rumah Hastin, kemi berenam cus
lanjut ke Semarang sekitar jam 3 sore. Di mobil Adit ada saya dan Fitri,
sementara di mobil Prastika ada Mbak Uci dan Santin. Perjalanan menuju Semarang
diwarnai dengan suasana menegangkan di mobil Adit dikarenakan bensinnya yang
nyaris mepet empty. Adit said si bensin cuma bisa cukup kurang lebih 2 kiloan
lagi. Nah loh. Padahal posisi kami semacam di tengah hutan. Inhale exhale. Ngarep
banget nemu SPBU. Dan begitu nemu subhanallaaaahh rasanya kayak habis
konstipasi dan kemudian bisa boker dengan lancar. LEGA!
Sampai Semarang, jemput
masnya Prastika dulu di daerah Bandungan, lanjut cus ke Semarang kota buat
jemput temennya si mas. Lemme introduce masnya ini. Yang pertama Mas Yoga, KU
Unisula 2006, dan Mas Nanda, same as the first one. Jadi ceritanya mereka ini
dokter muda aka koass. Bangga dong bok di-guide-in sama koass. Opoh. Dan ternyata
Mas Yoga ini dulu LOCO CIMSA Unisula di jamannya hlo. Wauw.
Oke. Lanjutkan trip. Pertama kita ke Pecinan. Banyak orang
cinanyaa. Yekali namanya juga Pecinan. Dan masakan berbau babi banyak dan
sangat mudah ditemukan. Was-was juga sih seandainya mau makan di sana. Dan untunglah
Allah Maha Tahu dengan menurunkan hujan yang teramat deras subhanallah. Sayangnya
tempat berteduh di sana dikit banget. Cuma ada tenda kecil dan emperan toko
yang sempit. Begitulah, gak ada satupun dari kami yang luput dari hujan. Lebih tepatnya
lagi kebes. Basah kuyup. Setelah sedikit reda, maka kami memutuskan untuk cus
saja dan mencari tempat lain. Oh dan FYI, hujan yang cuma sekian menit itu
sukses bikin banjir daerah pecinan. Yak, banjir. ‘Beginilah. Selamat datang di
Semarang!’ that’s what Mas Yoga said.
| basah! |
| deresss like what |
| yes. that high. the flood. |
| semarang dan banjirr |
Tujuan selanjutnya, jelas isi perut. Gak tau lah dibawa ke
mana kami ini, tapi kami berakhir di suatu resto unyu di ujung perempatan entah
di daerah apa yang bernama Rumah Beringin. Seingat saya. Dan lagi-lagi, banyak
didominasi Cina. Ini Semarang kota macam apa dah udah berasa kayak di luar
negeri aja saya. Dan makanannya juga berbau Cina. Tapi thumbs up lah buat
rasanya. Beberapa bumbunya bisa ngingetin saya ke taste rumah ala ala Bontang
getoh.
![]() |
| bihun ayam panggang ft. jus wortel tomat sluurrp :9 |
Kelar makan, dan ternyata kami adalah pelanggan terakhir, lanjut
lagi dong tripnya. Kali ini kami melaju ke Lawang Sewu. Yak, tempat wisata wajib
incar di Semarang. Sayangnya karena sudah terlalu malam, jam kunjung wisatawan
sudah berakhir. Yasudahlah, kami hanya bisa menikmati dari luar pagar. Sayang sekali.
Maka kami memutuskan untuk berfoto-foto dari tengah bundaran yang ada di seberang
Lawang Sewu.
| lawang sewu! |
Mulai mendekati tengah malam, tujuan selanjutnya segera kami
jamah. Entah apa sebutannya kalo di Semarang, tapi kami di Jogja menyebutnya
Bukit Bintang. Daerah perbukitan di mana orang bisa menikmati keindahan lampu
kota di malam hari. Jadi bukan berarti bintang yang di atas, tapi bintang yang
dibawahlah yang dijadikan objek utama. Tapi berhubung sudah terlanjur tepar,
jadi cuma bisa sebentar di sana. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah host
kami. Betewe ada perubahan dari rencana awal kami untuk numpang menginap di
rumah Mas Yoga daerah Bandung, menjadi rumah Mas Nanda di daerah kota. Kata Mas
Yoga rumah Mas Nanda kosong. Baiklah, kami terima tawarannya walaupun berasa
gak enak juga karena semacam dadakan dan lebih lagi kami mengenal Mas Nanda belum
sampai 24 jam. Beda dengan Mas Yoga yang notabene adalah masnya Prastika.
Jadi begitulah, sampai di rumah Mas Nanda, ternyata kami
disambut kedua orangtuanya. Ngek. Tambah sungkan lagi dong bok. Udah pulang
tengah malem, penguk bau habis keujanan, bawa rombongan seabrek, dan dadakan. Tapi
subhanallah banget ortunya baiiiikkk buanget. Wong jowo.
Paginya, kami harus segera cabut balik ke Jogja karena ada
Emergency Meeting MMSA di jam 8. Tapi karena ceritanya kecapekan, rencana
berangkat jam 6 pun mundur sampai jam setengah 8 karena bangun kesiangan plus
ramah tamah dulu sama ibunya Mas Nanda. Sampe disiapin kopi anget, teh anget,
plus jajanan khas Semarang made in si tante. Subhanallah gak bisa berhenti
sungkan lah. Dan ternyata si tante ini pecinta kucing. Ada kurang lebih 5 ekor
kucing di rumah Mas Nanda. DAN ADA SATU ANAK KUCING UNYU YANG SAYA TAKSIR
AAAAAAA. Cintaku tertinggal di Semarang baca: kucing item unyu). Ngganjel banget
sebenernya antara pengen bawa si anak kucing ke Jogja, tapi gak punya kandang
carriernya, dan belum ngerti gimana cara ngurusnya, dan kamar juga kecil
banget. Ergh ngganjel SUNGGUH.
| pengen bungkus yang ini :3 |
| depan rumah Mas Nanda |
Perjalanan balik wajib mampir ke rumah Hastin lagi buat
ngambil mobilnya Mbak Uci. Dan di sana kami disuguhi sarapan lagi.
Subhanallaaahh gak abis-abis syukur karena udah dapet banyak bantuan
menyenangkan dari orang-orang baik ini. Begitulah, kami baru sampai di Jogja
masuk waktu dhuhur, bertepatan dengan istirahat makan siang EM MMSA which means
kami melewati lebih dari setengah EM. Tapi ternyata inti dari EM juga baru
mulai setelah istirahat siang itu. Good.
Trip ini juga gak luput dari berbagai muring-muringan karena
tersesat yang gak cuma sekali. Namanya juga daerah orang kan ye bok, jadi
maklum dong kalo nyasar. Dan sialnya nyasar tol itu sama sekali gak asik karena
kami jadi harus ngeluarin duit tol yang lebih mahal dari tol sebelumnya, 2000 rupiah, dan di tol nyasaran kami harus merogoh kocek 5500. Mangap dong ye.
Tapi worth it juga sih dengan
pemandangan yang kami lewati.
| pemandangan tol Ungaran. gak bakal tau kalo gak nyasar. |
| perhatikan nama toko, kemudian perhatikan barang yg dijual |
So, that’s it! Super hectic story of my first komuda. Norak abis
ye sampe 3 halaman ms word loh ini. Padahal besok lusa, Kamis 3 Mei 2012, ada
MCQ I. Ini malah blogging. Tak ape lah ye. Yukmari kawans.


No comments:
Post a Comment