Thursday, January 12, 2012

2012. Ibu. FNMD. Dan Ternyata Sudah Pagi.


Sudah pagi. 00.27 di waktu notebook saya. Sedang ingin nyangkem walaupun tidak tau apa yang ingin dicangkemkan.

2011 was a though year yet an awesome year to be remember. Banyak sekali yang saya lewati dengan wauw di tahun lalu. Persiapan ujian akhir SMA, persiapan ujian masuk universitas, kelulusan, ospek, kuliah perdana, bertemu banyak teman baru, dan bertemu anda. Anda siapa? Ya, anda sekalian.

Banyak juga yang saya sesalkan. Being a lazyass is one of them. Kenapa sih saya malas? Manusiawi memang. Asal masih dalam batas yang masuk akal saja kan ya. Tapi saya sedikit bersyukur juga dengan kemalasan saya. Seandainya saya sedikit lebih rajin mungkin takdir menuntun saya untuk tidak berkuliah di UMY ini. Bisa saja di universitas lain. Which means I will have another life. Yang belum tentu sehore apa yang saya rasakan saat ini di sini. 

Kalau tidak di UMY, saya tidak akan bergabung di MMSA. Kalau tidak UMY, saya tidak akan mengenal TBM ALERT—well walaupun saya belum berkesempatan untuk menjadi salah satu anggotanya di tahun pertama saya karena satu dan lain hal. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan tinggal di UNIRES. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan merasakan bagaimana rasanya menjadi satu dari para kuli transmitter MISC—oke kidding. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan mengenal apa itu FNMD yang ternyata surprisingly surprising dan ngasih banyak manfaat untuk para participantnya. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan merasakan punya berbagai teman luar biasa dari Aceh sampai Papua. Kalau tidak di UMY, mungkin saya tidak akan merasakan semua itu. Tapi jelas akan digantikan dengan yang lain. But who knows apakah rencana yang lain itu akan lebih baik dari apa yang sudah saya jalani selama ini. Syukuri dan jalani sajalah. Iya kan?

***

11 Januari 2012. Suatu sore tenang, late lunch, dan telepon dari ibu.

“gak papa mbak nikma ngomong kayak gitu? harus jaga perasaan lo mbak. apa dia gak tersinggung mbak bilang kayak gitu? siapa tau rasanya dia udah beda dan malah mbak nikma yang bikin ilang rasa” Deg. Gak sempet kepikiran yang seperti ini pas saya mengatakan itu.

“gak papa kok bu. kita sama-sama tau batasan kita. dia duluan juga yang semacam giniin duluan.”

Ibu saya, sebagaimanapun sakleknya tentang agama, saya salut dengan toleransi beliau. Beliau yang justru mengajarkan how to be in a good relationship. Tapi jelas bukan untuk diaplikasikan sekarang. Bakal ada waktunya suatu saat nanti. Dengan pemahaman beliau tentang agama yang cukup kuat tidak berarti membuat beliau benar-benar membatasi saya untuk tidak berbuat macam-macam. Ini yang sangat saya sukai dari ibu saya. Kepercayaan beliaulah yang membuat saya rasanya sungkan dan merasa berdosa sendiri kalau melanggarnya. Yang secara tidak langsung juga melanggar prinsip dasar saya dalam bersosialisasi. Alah ngomong apa.

Dan kemudian saya bercerita tentang bagaimana teman-teman saya menjalani kehidupan asmara mereka yang bisa dibilang masih terlalu dini untuk dilakukan. Bagaimana ribetnya untuk berada dalam suatu hubungan. Dan bagaimana konyolnya ketika suatu hubungan gak berdasar itu putus di tengah jalan.

“ya kan mbak. menjalani suatu hubungan itu gak mudah. apalagi yang gak ada ikatan jelasnya. kita harus berusaha baik-baikin diri di depan dia. harus berusaha ngebahagiain dia. padahal apa yang kita bakal dapet nanti? belum jelas kan? hati-hati ya mbak makanya.” Hati-hati. Selalu itu yang beliau pesankan pada saya. Another simple word that means ‘here, I give you my trust’ that honestly quiet burden me. 

“ya nanti ada waktunya sendiri lah mbak. semoga diberi yang terbaik ya” Klise. Memang. Doa yang umum diberikan oleh para orangtua. Tapi tetap sangat mengena.

pokoknya ibu saya tersuper sejagat! - @NikmaBekti

***

Pengen ngomongin tentang FNMD. Well actually in the first time I  was going to talk about that lame stuff—heart thingy. Tapi saya sadar apa gunanya sih. Let it flow woy, Nik. Yek.

FNMD, sebuah project baru dari MMSA UMY. Saya bekerjasama dengan sekian belas partner saya yang lain. Di sini kami mendapatkan sangat banyak ilmu yang jelas tidak akan kami dapatkan hanya dengan kuliah formal. Lebih ke soft skill. Bagaimana cara membawa diri yang baik. Dari mulai tatapan, gesture, penyampaian kata-kata, dankawankawan. Setelah kami sudah cukup lihai membawa diri, diharapkan kemudian kami bisa membawa orang. I mean not literally. Jadi kamilah yang seharusnya nanti mengusai keadaan. Proaktif, tidak lagi hanya reaktif. So far banyak banget manfaat yang saya dapatkan dari sini. Trainernya seorang senior dan treasurer MMSA. Karena memang ini project yang berhubungan dengan finansial, of course memerlukan keterlibatan treasurer. Yak. Semoga FNMD team sukses dan bisa mengkaderisasi untuk selanjutnya.


***

Masih pengen nyangkem lebih banyak lagi. Tapi sudah gak feel nuanginnya. I wish theres a robot that can smartly write my mind. Enak gitu tinggal mikir dan pikiran kita udah bakal otomatis ketulis. Kan. Muncul randomnya. Then. Bye.

Posted while listening to @swaragamafm. Sementara pagi ini DJ-nya lagi ngomongin tentang kejadian yang bikin patah semangat. Nyesek pagi buta.

No comments: