Sudah pagi. 00.27 di
waktu notebook saya. Sedang ingin nyangkem walaupun tidak tau apa yang ingin
dicangkemkan.
2011 was a though year
yet an awesome year to be remember. Banyak sekali yang saya lewati dengan wauw
di tahun lalu. Persiapan ujian akhir SMA, persiapan ujian masuk universitas,
kelulusan, ospek, kuliah perdana, bertemu banyak teman baru, dan bertemu anda. Anda
siapa? Ya, anda sekalian.
Banyak juga yang saya
sesalkan. Being a lazyass is one of them. Kenapa sih saya malas? Manusiawi memang.
Asal masih dalam batas yang masuk akal saja kan ya. Tapi saya sedikit bersyukur
juga dengan kemalasan saya. Seandainya saya sedikit lebih rajin mungkin takdir
menuntun saya untuk tidak berkuliah di UMY ini. Bisa saja di universitas lain. Which
means I will have another life. Yang belum tentu sehore apa yang saya rasakan
saat ini di sini.
Kalau tidak di UMY, saya
tidak akan bergabung di MMSA. Kalau tidak UMY, saya tidak akan mengenal TBM
ALERT—well walaupun
saya belum berkesempatan untuk menjadi salah satu anggotanya di tahun pertama
saya karena satu dan lain hal. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan tinggal di
UNIRES. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan merasakan bagaimana rasanya menjadi
satu dari para kuli transmitter MISC—oke kidding. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan
mengenal apa itu FNMD yang ternyata surprisingly surprising dan ngasih banyak
manfaat untuk para participantnya. Kalau tidak di UMY, saya tidak akan merasakan
punya berbagai teman luar biasa dari Aceh sampai Papua. Kalau tidak di UMY,
mungkin saya tidak akan merasakan semua itu. Tapi jelas akan digantikan dengan
yang lain. But who knows apakah rencana yang lain itu akan lebih baik dari apa
yang sudah saya jalani selama ini. Syukuri dan jalani sajalah. Iya kan?
***
11 Januari 2012. Suatu
sore tenang, late lunch, dan telepon dari ibu.
“gak papa mbak nikma ngomong
kayak gitu? harus jaga perasaan lo mbak. apa dia gak tersinggung mbak bilang
kayak gitu? siapa tau rasanya dia udah beda dan malah mbak nikma yang bikin ilang rasa” Deg. Gak sempet kepikiran yang seperti ini pas saya mengatakan itu.
“gak papa kok bu. kita
sama-sama tau batasan kita. dia duluan juga yang semacam giniin duluan.”
Ibu saya, sebagaimanapun
sakleknya tentang agama, saya salut dengan toleransi beliau. Beliau yang justru
mengajarkan how to be in a good relationship. Tapi jelas bukan untuk
diaplikasikan sekarang. Bakal ada waktunya suatu saat nanti. Dengan pemahaman
beliau tentang agama yang cukup kuat tidak berarti membuat beliau benar-benar
membatasi saya untuk tidak berbuat macam-macam. Ini yang sangat saya sukai dari
ibu saya. Kepercayaan beliaulah yang membuat saya rasanya sungkan dan merasa
berdosa sendiri kalau melanggarnya. Yang secara tidak langsung juga melanggar
prinsip dasar saya dalam bersosialisasi. Alah ngomong apa.
Dan kemudian saya
bercerita tentang bagaimana teman-teman saya menjalani kehidupan asmara mereka
yang bisa dibilang masih terlalu dini untuk dilakukan. Bagaimana ribetnya untuk
berada dalam suatu hubungan. Dan bagaimana konyolnya ketika suatu hubungan gak
berdasar itu putus di tengah jalan.
“ya kan mbak. menjalani
suatu hubungan itu gak mudah. apalagi yang gak ada ikatan jelasnya. kita harus
berusaha baik-baikin diri di depan dia. harus berusaha ngebahagiain dia.
padahal apa yang kita bakal dapet nanti? belum jelas kan? hati-hati ya mbak
makanya.” Hati-hati. Selalu itu yang beliau pesankan pada saya. Another simple
word that means ‘here, I give you my trust’ that honestly quiet burden me.
“ya nanti ada waktunya
sendiri lah mbak. semoga diberi yang terbaik ya” Klise. Memang. Doa yang umum
diberikan oleh para orangtua. Tapi tetap sangat mengena.
pokoknya ibu saya tersuper sejagat! - @NikmaBekti
***
Pengen ngomongin tentang
FNMD. Well actually in the first time I
was going to talk about that lame stuff—heart thingy. Tapi saya sadar apa gunanya sih. Let
it flow woy, Nik. Yek.
FNMD, sebuah project baru
dari MMSA UMY. Saya bekerjasama dengan sekian belas partner saya yang lain. Di sini
kami mendapatkan sangat banyak ilmu yang jelas tidak akan kami dapatkan hanya
dengan kuliah formal. Lebih ke soft skill. Bagaimana cara membawa diri yang
baik. Dari mulai tatapan, gesture, penyampaian kata-kata, dankawankawan. Setelah
kami sudah cukup lihai membawa diri, diharapkan kemudian kami bisa membawa
orang. I mean not literally. Jadi kamilah yang seharusnya nanti mengusai
keadaan. Proaktif, tidak lagi hanya reaktif. So far banyak banget manfaat yang
saya dapatkan dari sini. Trainernya seorang senior dan treasurer MMSA. Karena memang
ini project yang berhubungan dengan finansial, of course memerlukan
keterlibatan treasurer. Yak. Semoga FNMD team sukses dan bisa mengkaderisasi
untuk selanjutnya.
***
Masih pengen nyangkem
lebih banyak lagi. Tapi sudah gak feel nuanginnya. I wish theres a robot that
can smartly write my mind. Enak gitu tinggal mikir dan pikiran kita udah bakal
otomatis ketulis. Kan. Muncul randomnya. Then. Bye.
Posted while listening to
@swaragamafm. Sementara pagi ini DJ-nya lagi ngomongin tentang kejadian yang
bikin patah semangat. Nyesek pagi buta.
No comments:
Post a Comment