Persetan dengan pembuka
yang manis. Sedang dalam mood tidak baik malam ini. Kenapa? Terlalu banyak penyebab.
Just wanna write randomly right now.
So I’ve talk a lot random
stuff to myself on my way back from the sports center. Call me crazy but thats
quite helping to cure my bad mood.
Kenapa sih ingin
cepat-cepat berada dalam suatu relationship? Ketika mungkin kamu sendiri belum bisa
memanage dirimu dengan baik. Dari mana datangnya kepercayaan diri untuk
menambah amanah dengan memanage seseorang lain. I mean, come on, di umur kita
yang masih belum ada seperempat abad rasanya terlalu ingusan untuk dengan
sok-sokan mengikat diri dengan seseorang. Insya Allah kalau masih diberi umur
panjang pastilah ada kesempatan yang banyak to spend the rest of our life with
our own soulmate. Real soulmate. Yang terikat dalam satu hubungan yang jelas
dan SAH baik sah hukum maupun agama. Terlalu berat ya? Gak juga ah. Jadi ngapain
sih terlalu buru-buru untuk memulai suatu hubungan yang belum jelas arah tujuan
dan jaminannya? Konyol.
Apa salahnya untuk hidup
tanpa pasangan? Segimana beratnya sih? Masih sibuk belajar juga kan. Gak usah
sok hebat mengaku bisa menghandle pelajaran dan pasangan. Mau berdalih butuh
motivasi? Oke fine. Tapi gak harus kan dengan menasbihkan sang motivator
sebagai pasangan hati. Ah cih sekali.
Segitu malunya kah
menjalani hidup tanpa memiliki pasangan? Does it feel like no one loves you or
what? Ah terlalu banyak pertanyaan konyol yang saya tau jawabannya akan lebih
konyol lagi.
Saya terlalu cangkeman
kalau mau berlagak sok suci dengan tidak menginginkan berada dalam suatu
hubungan. Saya tidak menampik segimana senengnya ketika mendapat perhatian
lebih dari seseorang. Apalagi seseorang yang spesial untuk kita. Tapi sekali
lagi, gak harus kan diwujudkan dalam suatu hubungan yang identik dengan
berdua-duaan. Istilah gaulnya, pacaran. Seberapa banyak sih manfaat yang bisa
didapat dari kegiatan pacaran ini? Bisa telpon smsan sama si pacar? Pacaran aja
sama operator kartu seluler. Bisa dianter jemput pacar? Pacaran aja sama sopir.
Bisa ditraktirin di mana-mana? Pacaran aja sama bapakmu.
Dilihat dari mana-mana
kalau saya bilang masih bakal banyak mudharatnya. Ketidakmanfaatannya. Semisal sedang
dalam masalah dan ingin mengakhiri hubungan, biasanya akan lebih gampang. Karena
tidak ada pengikat jelas dalam berpacaran. Formal bond, I mean. Dan tidak ada
bekas atau tanda atau identitas spesial bagi mereka yang baru saja putus kan? Beda
dengan menikah. Lalu semisal lagi, naudzubillahnya pihak wanita mengalami ‘kecelakaan’
dan lebih naudzubillah lagi si pria gak mau ikut campur. Berabe. Kembali ke
permasalahan tidak adanya formal bond yang mengikat mereka. Ya gak?
Beda sama pernikahan. Semua
mudharatnya bisa berubah jadi manfaat. Seandainya ada permasalahan, effort
untuk menyelesaikannya mungkin akan lebih besar daripada permasalahan ketika
pacaran. Karena dalam pernikahan akan lebih banyak lagi faktor yang
dipertimbangkan. Coba kalau pacaran. Masalah --> putus --> nyoba balikan -->
kalau berhasil berarti pacaran lagi kalau nggak, nggonduk di kedua atau salah
satu pihak. Lawas. Atau lebih parah dan bahayanya lagi seandainya sampai kedua
pihak musuhan. Ih amit-amit lah. Konyol kan ya kalau kita jadi musuh seseorang
yang di satu waktu pernah menganggap kita dan dia adalah segalanya di dunia. Cih
nulis apa saya ini.
FYI this isnt caused by
you, Mr. Guard. Sumber inspirasi dari sampah saya yang ini gak lain dan gak bukan
dari teman saya sendiri, wanita. Yang jujur, saya sedikit kehilangan respek
untuknya karena kelakuan dia yang satu ini. Terkesan terlalu haus hubungan. I
mean, ayolah, kami berteman denganmu bukan karena seberapa ganteng pacarmu,
atau seberapa berpengalaman kamu dalam hal pacaran, atau apakah kamu punya
pacar atau tidak. We’re being friends because of who we really are. Jadi
tolonglah, lebih santai sedikit menjalani hidup. Kehilangan satu orang yang
memanggilmu sayang tidak akan mengakhiri hidupmu kan?
This whole post really
make me wanna vomit my dinner. And the dumber thing is that this is caused by
maybe just one small problem. Blame me who tend to hold my anger too long. And dont get me wrong, I write this doesnt mean that I'm a backstabber. Just, I dont wanna make bigger problem for her. And of course, for me too.
No comments:
Post a Comment