So this is it. My last seventeen-years-old-post. Tomorrow, I'll become an 18 yo girl. Apa yang sudah kamu dapatkan selama 17 tahun ini, Nik? Banyak. Baik dan buruk. Penting dan tidak penting. Keluarga, teman, pengalaman. Rejeki dan musibah.
Untuk ulang tahun ke-18 ini, saya sudah merencanakan ingin mendapatkan hadiah apa. Bukan dari orangtua, bukan dari teman. Tapi dari saya sendiri. Hadiah pertama, lulus UNAS. Nilai bagus? Masuk hitungan bonus. Entah mengapa untuk ujian akhir SMA ini saya belum bisa merasa sedewa ujian akhir SMP. Hadiah yang lain adalah masuk perguruan tinggi yang terbaik. Jujur, sampai saat ini jika ditanya ingin masuk universitas mana, saya masih belum bisa dengan mantap menyebutkan satu nama dengan pasti. Saya lebih berpandangan ke program studi. Kedokteran dan psikologi. Insya Allah, jika sudah meniatkan di prodi, masuk di universitas mana pun akan sama saja. Iya kan?
Semoga saya bisa mendapatkan kedua hadiah ini. AMIN.
And this is d-10. Countdown to final exams. How's your preparation, Nik? Seems like the old days. Still the same, huh? Iya. Saya akui saya seperti berjalan ditempat. Baiklah, tidak separah itu. Mungkin jalan dengan kecepatan yang disarankan di peraturan lalu lintas tanpa percepatan. Sementara teman-teman saya jelas sudah secepat para pembalap di sirkuit balap macam F1. Lalu tidak ada juga usahamu untuk menyalip mereka? Minimal mensejajari lah. Tidak ada, Nik? Ada. Jelas ada. Tapi tetap belum bisa seluar biasa mereka mereka. Tadi pagi baru saja saya mengambil fotokopian kunci jawaban 'Detik-Detik UNAS'. Semcama LKS wajib bagi para siswa di tingkat akhir. Lalu saya bertemu teman saya. 'Ngopi apa, Nik?' 'Ini, kunci detik.' 'Oh, aku wes khatam kae.' Dan hey, saya baru memulai. Benar-benar baru memulai. Like, I even haven't finished the first packet for math. Ya, di h-10 ini.
Jadi resolusi apa untuk umur baru anda ini, Nikma?
Yang pertama jelas, lulus. Kemudian diterima di perguruan tinggi terbaik. Above it all, saya ingin saya bisa menjadi rajin. Rajin yang sebenarnya. Rajin yang istiqomah. Rajin yang tidak bergantung mood. Rajin dalam hal kebaikan. Tidak seperti rajin saya yang sekarang. Rajin mendownload, rajin bertransaksi, rajin membaca fanfic. Bukan. Rajin dalam kebaikan. Semoga.
Anyway, rajin dalam hal 'kurang baik' yang saya sebutkan di atas tidak serta merta tanpa manfaat apapun. Berhubung saya suka mengikuti dunia luar Indonesia tersebut, sedikit banyak mempengaruhi kemampuan bahasa saya. Menonton video misalnya, jelas saya harus membaca subtitle yang jarang berbahasa Indonesia. Lalu fanfic, jarang fanfic berbahasa Indonesia yang mempunyai plot dan gaya bahasa yang bagus. Thus, I prefer to read english fanfics. Much more better. Dari segi plot maupun cara menceritakan. Jarang yang—sebut saja—alay.
Dari banyak membaca fanfic itu—dan dari banyak bisikan para setan penulis fanfic di sekolah saya—mulailah saya tergoda untuk mencoba membuat fanfic. So far, I've made 5 fanfics. Any types. Chaptered, oneshot, or just drabble. Thanks to my failed projects, I got my feedback from you guys. Kira-kira apa? Jadi begini, Kamis kemarin sebelum foto angkatan untuk buku tahunan, salah satu teman saya memanggil saya dengan sebutan Mbak TOEFL 500. That's just too lawas. Two-thousand-and-late lah istilahnya. Tapi ternyata dia memanggil saya sambil mengacungkan beberapa lembar kertas. Piagam lebih tepatnya. Piagam TOEFL untuk lebih tepat lagi. Another TOEFL result. I don't even remember which test was this come from. Whatever. Setelah saya lihat, memang benar TOEFL saya mencapai angka 500. Dan lebih sekian. Teman saya sampai misuh demi melihat angka di piagam saya. 'Sial lo, Nik! Udah bisa ke Eropa kamu!' Amiin. Semoga saja suatu saat benar kejadian.
Baiklah. Dan baiklah. Baiklah. Should I say goodbye to my 17yo life now? I don't think so. I've to wait till tomorrow for sure. Jadi sebaiknya saya sekarang kembali menghadap lembaran kertas bertuliskan soal itu, dan mulai mengerjakannya. Kamu inigin dapat hadiah terbaik untuk tahun ini kan, Nik? Lakukan usaha, jangan hanya berharap dan duduk tenang seperti itu. Baiklah. Baiklah lagi.
Selamat berjuang, Nikma Kurnianingtyas Bekti :)
Sincerely, myself.
No comments:
Post a Comment